Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


Seekor gajah menghadang kendaraan kami, tepat didepan kami. Dari kaca depan kendaraan kami hanya bisa melihat 4 kaki menjejak kokoh sebesar batang pohon dan belalai yang berayun. Bukan hal yang biasa, kami bisa berhadapan dengan hewan liar di jalan umum. Ya, gajah ini melintas di jalan masuk ke villa tempat kami akan bermalam. Memaksa kami untuk memundurkan kendaraan agar si gajah bisa melintas. Saat kami membuka kaca jendela barulah kami melihat sang pawang yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Dia duduk di antara punggung dan kepala si gajah sambil memegang telinga gajah. Di belakangnya, tepat di punggung gajah, seorang gadis berambut pirang menyeringai tersenyum ke arah kami.
Meerkat, salah satu koleksi Balizoo

Baca selengkapnya »




20 tahun silam pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Semarang. 20 tahun silam saat saya pertama kali mencicipi salah satu kuliner khas Semarang, Lumpia Semarang dan 20 tahun silam saya berjanji tidak akan pernah menyentuh kembali penganan berisikan rebung ini. Rebung yang membuat saya anti terhadap Lumpia Semarang. Aroma rebung yang menyengat dan bahkan (maaf) berbau pesing menurut saya berhasil membuat saya untuk menjaga jarak bahkan sedikit bermusuhan dengan Lumpia Semarang. Pertemuan dengan Bapak Yongki Tio kemarin "memaksa" saya untuk kembali bertatap muka dengan Lumpia Semarang. 


Bapak Yongki Tio bercerita tentang sejarah kuliner khas Semarang

Baca selengkapnya »


Dia berdiri angkuh bergeming menatap lalu lalang modernitas di salah satu sudut Jalan Pemuda. Memandang lekat kearah Tugu Muda yang dibanjiri cahaya warna-warni dan riuh rendah canda tawa muda-mudi Semarang. Di tengah gelapnya hari dia bermandikan cahaya keemasan. Entah kenapa ada rasa berbeda setiap menatapnya apalagi saat hitam melatari dirinya. Angker seketika menyeruak, imajinasi liar tentang kelam masa lalu pasti bermain hebat di dalam kepala. Salahkan sejarah yang pernah menyematkan potongan kelam masa lalu pada dirinya.

Lawang Sewu

Baca selengkapnya »



Rasa hangat merambat menyapu kaki, perlahan naik hingga memaksaku untuk membuka mata. Bukan hal biasa yang aku lihat pagi ini. Terlihat dari gorden yang tersingkap, langit yang tersipu malu pagi itu, terpapar semu merah di wajahnya. Air di kolam yang bergeming tepat di depan kamarku memantulkan sempurna wajah malu-malu sang langit. Gemericik air memanggil aku untuk beranjak walau rasanya masih berat untuk meninggalkan peraduan yang membuaiku semalaman. Sebelum melangkah keluar aku menyempatkan membaca selembar kertas terlipat rapi diatas sekeranjang buah segar yang tak sempat kusentuh kemarin.
The Sanctoo Villa

Baca selengkapnya »


Semesta pun murung siang itu. Langit biru dan terik mentari bagai dirangkul oleh segerombolan awan menghitam yang menggantung rendah. Siang itu, siang terakhir kami mengarungi perairan Kepulauan Komodo. Terakhir kalinya kami merapat di pulau berjarak 1 jam dari Labuan Bajo, Pulau Kanawa. 3 hari sang surya menemani kami merepih alam, 3 hari langit biru menaungi kami menjelajah alam namun tidak di siang terakhir kami. Sedih yang menggantung di balik rasa kami rupanya didengar semesta. 
Semesta pun murung siang itu...
Jalan-Jalan Jeprat-Jepret Pulau Kanawa

Baca selengkapnya »