LOST IN TANAH DELI (ISTANA MAIMUN & MAASJID RAYA, MEDAN DAY 3, 21-25 AGUSTUS 2014)

By Ang Leonard Anthony - 10.06


DAY 3

Medan, saya pribadi berpikir shooting film Fast n Furious seharusnya dilakukan disini. Dibilang ugal-ugalan juga tidak sebenarnya, tetapi saya harus "salut" dengan ketepatan dan kegigihan para pengemudi di kota Medan. Jika kita telat sedikit saja menginjak gas, dipastikan akan ada kendaraan lain yang menyalip di depan kita dan satu lagi, sepertinya mereka tidak takut kendaraannya akan lecet atau tergores, pokoknya hajar bleeeh. Kalau ingin merasakan sensasi salip menyalip di jalanan yang tidak terlalu lebar dan macet, Jakarta tidak ada apa-apanya dibanding sensasi berkendara di Medan.
 
Masjid Raya Medan
Perjalanan hari ke-2 kami berakhir dengan bermalam di Berastagi, dari desa Tongging memakan waktu 1 jam dengan rute Tongging-KabanJahe-Berastagi. Esok paginya perjalanan di lanjutkan menuju Kota Medan melalui 1-1 nya jalan protokol , Jalan Jamin Ginting, dengan waktu tempuh 2 jam, jika dalam kondisi macet bisa 3 sampai 4 jam. Karena molor-nya upacara pernikahan teman kami, hancur sudahlah jadwal kami di Medan. Jam 2 siang, kami baru mulai bergerak dari acara resepsi. Dengan perubahan jadwal, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi landmark Medan yaitu Istana Maimun dan Masjid Raya Medan.
 
Istana Maimun
Istana Maimun Peninggalan Sulthan Ma’moen terletak di jalan Brigadir Jenderal Katamso, kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun. Dengan warnanya yang kuning menyala, bangunan ini sangat mudah ditemukan, belum lagi halamannya yang luas. Menjelang sore, halaman Istana Maimun sering dijadikan lokasi bermain anak-anak sekitar. Arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara ciri arsitektur Moghul, Timur Tengah, Spanyol, India, Belanda dan yang pasti unsur Melayu yang kental dengan pemilihan warna kuning keemasan. Jam buka setiap hari dari jam 08.00- 18.00 WIB, dengan harga tiket cukup 5000,-/ orang.
 
Perpaduan Arsitektur Berbagai Budaya
Pintu Masuk Istana Maimun


Jika berminat, kita bisa meminta pemandu untuk menjelaskan tentang sejarah Istana Maimun, berhubung ketertarikan kami hanya dengan makanan, kami cukup melihat-melihat dan mencuri dengar jika ada pemandu yang menjelaskan sejarah Istana kepada pengunjung lain.
 
Dominasi Kuning Keemasan
Peninggalan Sultan Ma'moen
Didalam istana kita bisa menyewa baju adat melayu untuk berfoto, lokasinya bebas, cuma memang lokasi favorit pengunjung adalah tahta kerajaan yang berwarna emas. Tidak banyak memang lokasi yang bisa di jelajahi dari Museum ini, bahkan di bagian bawah museum digunakan sebagai tempat tinggal, saya kurang tau, apakah ini pengurus museum atau kerabat yang masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja terdahulu. Yang jelas, pemandangan jemuran pakaian beserta "jeroan" cukup menganggu pemandangan. Unsur megah dan agung seketika luntur ketika melihat ada sepeda motor usang terparkir nyempil dibawah tangga utama. Suasana tempo dulu langsung hilang ketika ada "kacamata batman" tergantung dekat pohon di halaman Istana T_T.

 
Tahta Sultan
Peninggalan Sultan Ma'moen lainnya adalah Masjid raya Medan atau masjid Al-Mashun, yang terletak tidak jauh dari lokasi Istana, di jalan Singsingamangaraja. Masjid Raya Al-Mashun Medan, memiliki  4 serambi utama - di depan, belakang, dan samping kiri kanan yang difungsikan sebagai pintu masuk. sebagai penghubung ke 4 serambi itu, ada selasar yang mengitari bangunan Masjid seperti benteng. Sebenarnya saya ingin sekali melihat indahnya Masjid Raya dari dalam, tapi karena waktu dan takut menganggu umat yang sedang beribadah, saya urungkan niat tersebut.
 
Masjid Al-Mahsun
Serambi Sebagai Pintu Masuk
Serambi dan Selasar
Saya hanya sempat melihat tempat wudhu Masjid Raya. Dulu saya pernah melihat tempat wudhu di Istiqlal, lebih menyerupai selasar panjang dengan pancuran air. Tempat wudhu di Masjid Raya seperti membawa kita ke Persia, dengan kolam pancuran di tengah dan langit-langit yang menjulang tinggi serta lengkungan yang penuh dengan ukiran berwarna putih.

Tempat Wudhu
Selain bangunan bersejarah, yang tidak boleh dilewatkan adalah kuliner di Medan. Dari yang bernuansa modern di wilayah Merdeka Walk, di sini banyak resto-resto cepat saji, western food atau pun cafe dengan hiburan musik. Ada juga bernuansa timur tengah dengan Nasi Kandar, Nasi Briyani, lengkap dengan penjual asli India yang menggenakan kaos dalam putih dan bersarung digulung selutut. agak worry, kumis, jenggot atau rambut-rambut yang menyembul dari atas lehar kaos itu rontok dan jatuh ke makanan :p.  Yang terakhir dan tidak boleh dilewatkan adalah Jalan Semarang, dengan nuansa chinatown street food. This is the best place to eat "Sapi Kate" atau "Sapi Kaki Pendek" . Ada juga Martabak Piring, martabak yang efisien karena sekali lahap langsung habis. 

Mohon maaf kalau tidak ada dokumentasi untuk kuliner-kuliner ini, karena saya lebih memilih menikmati makan daripada harus foto-foto makanan saya. Saya bermusuhan sejenak dengan kamera jika sudah ada makanan tersaji, apalagi yang disajikan si "Sapi Kaki Pendek" itu. :p

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Hmmmm ... kalo gw ngak demen ke bangunan2 tua begini dah move on dari masa lalu tapi medan selalu jatuh hati dengan KULINER nya hahaha

    BalasHapus