PETANI RUMPUT LAUT DI LEBAOH

By Ang Leonard Anthony - 13.03

Mata pencaharian utama penduduk Lembongan adalah petani rumput laut. Sayangnya saat ini sudah sedikit sekali generasi muda Lembongan yang mau meneruskan profesi pendahulunya sebagai petani rumput laut. Bahkan beberapa petani rumput laut yang ada sekarang mulai beralih profesi menjadi tukang bangunan menlihat banyaknya pembangunan penginapan-penginapan di wilayah Lembongan. Saat ini, rata-rata petani rumput laut di lakoni oleh wanita-wanita Lembongan.
Rumput laut dengan harga 5000/Kg
Pantai Lebaoh yang penuh dengan perahu kayu
Salah satu pantai yang dijadikan sebagai lahan penanaman rumput laut adalah Pantai Lebaoh. Saya menemukan pantai ini tanpa sengaja setelah berkunjung dari Rumah Gala-Gala. Mencoba mencari jalan lain, kami berakhir di jalan kecil berbatas pekarangan rumah penduduk. Untungnya kami berpapasan dengan siswi SMA berkepang dua (bukan Anabelle). Saat kami tanyakan apakah jalan ini berujung ke pantai, dengan senyum manisnya dia menjawab "lurus saja ada pantai Lebaoh" sambil ngeloyor pergi. Jujur yang saya dengar saat itu adalah Pantai Kerbau.
Pantai yang masih sepi
Pantai Lebaoh yang letaknya tersembunyi ini jauh dari jamahan turis, saat saya di sana tidak ada pengunjung lain, yang ada hanya puluhan perahu-perahu kayu yang berserakan di pantai dan petak-petak yang dipenuhi rumput laut. Untuk saya pemandangan ini menjadi "penyegaran" karena menampilkan sesuatu yang berbeda. Di 2 pantai sebelumnya hanya menyajikan perahu penumpang, payung pantai dan bule-bule bergelimpangan, di sini saya benar-benar menemukan pantai sepi yang indah. Dari pantai Lebaoh ini juga dapat dilihat pulau Nusa Ceningan yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Seaweed farm
Petani rumput laut yang sebagian besar adalah wanita
Saya sempat berbincang dengan salah satu petani rumput laut bernama Ibu Dewi. Beliau bercerita tentang kejayaan rumput laut di masa lalu. Dahulu rumput laut di hargai 15.000/Kg dan banyak di kirim ke Lombok untuk di jadikan manisan rumput laut. Saat ini jerih payah beliau hanya di hargai 5.000/Kg. Produsen rumput laut di Lombok saat ini sudah bisa membudidayakan rumput laut sendiri sehingga permintaan rumput laut Lembongan berkurang drastis. Cobaan untuk beliau tidak berhenti di situ, musim panas seperti saat ini menyebabkan panen rumput laut banyak yang busuk karena air laut yang surut.

"Ladang" rumput laut
Rumput laut yang awalnya di kirim ke Lombok
Di balik cerita duka dari Ibu Dewi, pantai Lebaoh memang menyimpan pesona alam yang berbeda dengan pantai kebanyakan. Saya pribadi berharap pantai ini bisa di kenal banyak orang sebagai pantai dengan pasokan rumput laut terbesar di Lembongan, tetapi semoga saja tidak sampai menggeser petani-petani rumput laut ini karena komersialisasi pantai yang menyebabkan habisnya lahan penanaman rumput laut. 

Musim panas menjadi kendala untuk para petani
Ibu Dewi sang petani rumput laut

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Aku perna melihat yg sama macam ini di kertasari sumbawa, 1 desa isi nya petani rumput laut

    BalasHapus
  2. Luar biasa ya, seandainya pertanian model ini bersanding dengan pertanian. Pasti akan ada value lebih untuk masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang, kynya diabaikan sm pemerintah kak

      Hapus
  3. rumput lautnya menggoda, rasanya mau langsung makan di tempat. hehe

    BalasHapus
  4. baru tau nih pertanian rumput laut .. heeuuu ..
    kirain adanya di laut doang
    makasih kak infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mba Lia, terima kasih sdh berkunjung

      Hapus
  5. Sebenernya, enak juga sih mas kalau belum dikenal turis begini. Pantainya lebih private,masih terjaga, dan pastinya masih bersih dari sampah :D. Tapi, kalau udah dijadiin semacam ekowisata gitu mudah-mudahan tidak menggeser lahan pertanian rumput laut, sama seperti doa mas di atas ^_^

    BalasHapus