SYAHDU DI DANAU TAMBLINGAN

By Ang Leonard Anthony - 02.00


Pagi itu gerimis entah dari mana datangnya. Padahal kemarin-kemarin panas di Bali seakan memiliki 2 matahari. Sedihlah saya, ditambah rute perjalanan saya hari ini menuju ke dataran tinggi. Memang saya sudah mempersiapkan diri untuk "kecewa" karena sering kali bermain ke dataran tinggi selalu mendapati langit kelabu berjelaga hingga menghitam lalu menghilang #euphoria AADC2. Tapi hujan yang menyambut di pintu hotel membuat persiapan "kecewa" saya porak poranda sejak awal. 
 
Danau Tamblingan

Menempuh perjalanan selama 2 jam dari pusat kota Denpasar menuju Desa Munduk, Buleleng. Tujuan saya adalah Danau Tamblingan. 1 dari 3 danau yang terbentuk dari Kaldera besar. Danau Beratan yang paling terkenal dengan Pura Ulun Danu, Danau Bunyan dan terakhir Danau Tamblingan. Konon katanya dulu Danau Bunyan dan Tamblingan adalah 1 bagian danau sebelum terjadi longsor di abad ke 19 yang menyebabkan 2 danau ini terpisah oleh hutan seluas 1 KM. 
 
Bunyan dan Tamblingan yang terpisah oleh hutan

Danau Tamblingan sendiri berasal dari bahasa Bali "Tamba" yang artinya obat dan "Elingang" yang artinya kemampuan spiritual. Dahulu di sekitar danau ada desa yang menjaga kesucian danau dan Pura di sekelilingnya, hingga suatu saat merebak wabah ulah Umbrella Corp sehingga warga desa berubah menjadi zombie di desa tersebut lalu 1 orang yang disucikan turun ke danau dengan kemampuan spiritual dan doanya, air danau menjadi obat untuk menyembuhkan warga di desa tersebut. Jadilah danau tersebut di sebut sebagai Danau Tamblingan.
 
Barisan perahu kayu di Tamblingan
Suasana yang tenang dan sejuk

Terletak di ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut udara di sini sangat sejuk. Gerimis yang menemani saya sejak berangkat sudah beranjak pergi meninggalkan langit mendung. Nyatanya langit mendung tidak membuat keindahan Tamblingan memudar. Bahkan aura tenang, semilir angin dingin dan awan kelabu yang menggelayut membuat Tamblingan seakan mencegah saya untuk tidak buru-buru beranjak. Pemandangan perahu dayung yang membawa wisatawan berkeliling danau seluas 1,9 Km di kejauhan benar-benar membuat pikiran tenang. Di danau ini memang tidak diperbolehkan menggunakan perahu motor, jadi Danau Tamblingan benar-benar terjaga tidak tercemar oleh limbah bahan bakar atau oli dari perahu. Pemandangan beberapa penduduk lokal yang memancing ikan dengan cara sangat tradisional dengan memukul-mukulkan sebilah bambu ke permukaan air untuk memancing ikan naik ke permukaan danau sedalam 90 meter ini juga menambah keunikan sendiri saat berkunjung ke Tamblingan. Suara air danau yang ditabuh memercik kembali jatuh ke danau menciptakan alunan musik alam yang saya rasa jauh lebih indah dibanding musik apapun.
 
Memancing dengan cara tradisional
Perahu dayung agar tidak terjadi pencemaran

Fasilitas di Danau Tamblingan cukup memadai dengan adanya toilet umum dan area lapang untuk mendirikan tenda, menurut warga setempat tidak dipungut biaya tapi ada baiknya lapor dulu saat memasuki gerbang Danau Tamblingan. Untuk aktivtas, selain bisa menyewa perahu kayu untuk berkeliling (+/- Rp 100.000,-) di sini juga tersedia rute Trekking sepanjang 2 Km atau 8 Km, yang pasti harus ditemani pemandu dan yang pasti saya mohon maaf karena lupa menanyakan berapa tarif trekiing-nya :p. 
 
Panorama danau Tamblingan

Sering dijadikan lokasi prewedding
Buat saya, Danau Tamblingan dengan keheningannya benar-benar memukau, tak peduli dengan mendung yang menggelayut malah menurut saya menambah kesan syahdu dengan hadirnya awan kelabu. Kalau beruntung dan mau luangkan waktu sedikit lebih awal, mungkin bisa mendapati sang matahari beranjak keluar dari tidurnya. Agak siang sedikit mungkin kita harus berbagi lokasi dengan fotografer-fotografer prewedding dan calon pengantin yang tiba-tiba muncul di segala sisi.
 
Pura di sisi Tamblingan
Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Tamblingan
Dalam perjalanan pulang jangan lupa untuk mampir di salah satu tempat untuk berfoto dengan latar pemandangan danau Tamblingan dan Bunyan sekaligus. Walaupun hanya berupa platform beton yang dibuat sedikit menjorok ke depan, lokasi ini cukup ramai disinggahi wisatawan jadi jangan sampai ber-narsis ria terlalu lama, bergantian-lah dengan pengunjung lain. Waktu saya di sana ada beberapa anak muda saya berasa tua dari negara tetangga yang entah sudah berapa lama di sana karena antrian panjang sekali di belakang mereka. Tahu cara menghentikan kegiatan narsis mereka tanpa harus keluar tenaga? Duduk saja disampingnya saat mereka sedang berfoto niscaya mereka akan segera meninggalkan lokasi tersebut :p (untungnya saya tidak didorong dari atas platform oleh mereka T_T)

Jalan-Jalan Jeprat-Jepret

  • Share:

You Might Also Like

15 comments

  1. Walaupun mendung foto2nya tetap kece :)

    BalasHapus
  2. Mendung gak bikin keindahannya luntur ya kak? tetep bagus dan punya atmosfer yg ngangenin
    #gagalmoveon sama bali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita pasukan gagal move on sama bali. Selalu kangen sm suasana Bali

      Hapus
  3. wuih phto photonya kerren Gan...nice nice

    BalasHapus
  4. Kna charge ga klo buat prewedding

    BalasHapus
  5. Kna charge ga klo buat prewedding

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus ada ijin mas, di pintu masuk ada pengurusnya. Untuk biayanya saya kurang tau berapa

      Hapus
  6. Mobil bisa turun sampai ke danaunya? Atau harus jln kaki dulu? Soalnya mau ajak ortu kesana tapi susah jalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mobil bisa masuk sampe ke dekat danau mas (dekat pura) asalkan danau sedang surut

      Hapus