PENUH MAKNA DI ULLEN SENTALU

By Ang Leonard Anthony - 19.07


Kali kedua saya menginjakkan kaki di museum sejarah Jawa ini dan sekali lagi saya terpesona dengan keindahan dari museum yang berlokasi di Kaliurang. Tetap saya menobatkan museum ini sebagai museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Selain sejarah Jawa, banyak pengetahuan umum yang bisa diserap begitu kita menyelesaikan rangkaian tour selama kurang lebih 1 jam.
Ullen Sentalu

"Selamat datang di Museum Ullen Sentalu"
Guide kami menyapa dengan senyum dan suaranya yang renyah. Sambil berbasa-basi sedikit menanyakan kota asal kami, penjaga membuka pintu masuk dan mengingatkan untuk tidak mendokumentasikan apapun selama tour berlangsung. Selasar kecil berkelok menyambut kami dengan naungan pohon-pohon rindang. Suasana di dalam memang terasa lebih sejuk dan tercium harum tanah basah yang khas sepanjang perjalanan kami menuju ruang pamer pajang yang pertama.


GUWO SELO GIRI

Bangunan menyerupai bunker yang berada 3 meter di bawah permukaan tanah. Dinding dari ruangan ini tersusun dari batuan Andesit hasil letusan Gunung Merapi, percaya atau tidak walaupun ruangan ini terpendam 3 meter di bawah tanah suasana sejuk dan dingin tetap mendominasi seluruh ruangan di Guwo Selo Giri ini. Pintu masuk dari Selo Giri dibuat rendah sehingga siapapun yang berkunjung harus sedikit membungkuk, maknanya adalah kita harus sopan saat masuk ke rumah orang lain dengan cara membungkukkan badan seperti memberikan hormat kepada sang empunya. 


Di dalam Guwo Selo Giri terdapat 2 ruangan, yang pertama berisi lukisan tari-tarian dan perangkat gamelan.  pemandu kami menjelaskan bahwa raja-raja jaman dahulu tidak hanya harus mahir berperang tapi juga harus mahir menciptakan satu tarian (berkesenian). Gamelan pun mendapat kedudukan penting dalam satu kesenian sehingga seluruh gamelan dalam ruangan ini memiliki namanya sendiri-sendiri.
Guwo Selo Giri. Sumber : Facebook Museum Ullen Sentalu

Ruangan kedua berisi silsilah kerajaan Jawa (Mataram) yang terpecah belah menjadi 2 wilayah (Yogyakarta dan Surakarta) dan seiring berjalannya waktu, masing-masing wilayah ini mengalami perpecahan kembali sehingga kini ada 4 wilayah yang mendukung terbentuknya warisan kebudayaan Jawa. Masuk ke dalam lagi, kanan kiri dinding dipenuhi lukisan dan foto-foto keluarga Sultan. Penjelajahan di Guwo Selo Giri diakhiri dengan pigura kaca berisi aksara Jawa "Hanacaraka, data-sawala, pada jayanya, magha-batanga" . Ternyata bukan sembarang susunan aksara tetapi memiliki makna yang berkisah tentang 2 orang berselisih yang sama-sama memiliki kesaktian dan akhirnya keduanya tewas.


KAMPUNG KAMBANG

Tour berlanjut di antara labirin-labirin yang berdiri di atas kolam. Suasana ini menggambarkan keadaan perkampungan pada umumnya di Jawa, berkelok-kelok dan berhimpitan antara 1 rumah dan rumah yang lain. Maknyanya tentu saja untuk selalu membina hubungan yang erat dengan sesama.


Di Kampung Kambang ini terdapat 5 bangunan sebagai ruang pamer pajang, Ruang Tineke, Ruang Ratu Mas, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan. Masing-masing ruang memiliki cerita menarik sendiri-sendiri. Misalnya Ruang Tineke, dimana seluruh ruangan ini berisi surat cinta, puisi-puisi patah hati dan surat berisi penghiburan untuk Putri Tineke yang hubungan percintaannya tidak disetujui oleh Sultan hingga akhirnya Putri Tineke melepas status ningratnya untuk mengejar cinta. Atau Ruang Putri Dambaan yang memajang foto-foto Gusti Nurul yang terkenal karena kecantikannya, kabarnya banyak orang-orang terkenal yang hendak mempersunting Gusti Nurul.


Ruangan yang paling menarik buat saya adalah Ruang Batik. Banyak informasi menarik tentang motif-motif batik. Contohnya adalah penggunaan motif parang yang dulu hanya boleh digunakan oleh Sultan, karena motif parang ini identik dengan perang dan hanya Sultan yang berhak untuk mengobarkan peperangan. Bahkan ternyata penggunaan motif batik pada zaman dahulu tidak boleh sembarang pakai, ada batik yang hanya boleh digunakan saat pernikahan, masa berkabung, bahkan saat "cinta lama bersemi kembali".


Banyak fakta menarik saat memasuki Ruang Ratu Mas, ruang yang diperuntukan bagi permaisuri Ratu Hemas yang masih berusia belia saat dipersunting Pakubuwono X yang saat itu sudah berusia 50 tahun. Konon katanya Beliau (Pakubuwono X) adalah orang kaya pertama di Indonesia dan orang pertama yang mengimpor mobil dari Eropa yang sekarang ini dikenal dengan Mercedez Benz. Melihat tubuhnya yang gemuk pun mungkin agak berbeda dengan Sultan-sultan yang lain. Pakubuwono X menggemukkan badannya agar ada cukup tempat untuk meletakan lencana-lencana, tanda kebesarannya di seluruh bagian torsonya (dada). Sedikit pamer apa salahnya, toh beliau adalah orang kaya pertama di Indonesia :). Karena hartanya melimpah, beliau setiap hari Kamis sering bertatap muka dengan warga dan membagi-bagikan sedekah, dari situlah muncul istilah Ngemis (warga yang mengharapkan sedekah pada hari Kamis) sedangkan untuk warganya sendiri mendapat julukan sebagai Pengemis.
Pakubuwono X
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kasunanan_Surakarta

Sebelum melanjutkan penjelajahan, pengunjung diperkenankan untuk istirahat di salah satu ruang dan diperbolehkan untuk berfoto di sini. Pengunjung juga akan disuguhkan minuman awet muda resep rahasia dari Gusti Nurul yang terkenal cantik dan menjadi dambaan banyak orang, sudah 2 kali saya minum ramuan yang terasa manis dan hangat di badan ini semoga efeknya benar-benar manjur untuk membuat saya tetap awet muda :p.
Ruang istirahat dengan suguhan ramuan awet muda

SASANA SEKAR BAWANA


Melanjutkan perjalanan di Ullen Sentalu menuju ke ruang terakhir yaitu Sasana Sekar Bawana. Namun sebelumnya kita diajak melintas di koridor Retja Landa, berisi arca-arca yang konon katanya berusia ratusan tahun. Selain tidak boleh memotret, pengunjung juga dilarang menyentuh koleksi arca di sini karena di khawatirkan keringat yang bersifat asam dapat merusak/mengerus kondisi arca.


Yang langsung menarik pandangan saat masuk di Sasana Sekar Bawana adalah 2 patung pengantin wanita dalam ukuran yang besar, di sebelah kiri pengantin wanita dari Surakarta sedangkan sebelah kanan berasal dari Yogyakarta. Riasan bukan sembarang riasan untuk terlihat cantik, semua atribut yang dikenakan pengantin ini memiliki makna masing-masing, contohnya chunduk mentul (bunga di atas kepala) yang diletakkan menghadap belakang yang bermakna bahwa kecantikan tidak hanya dilihat di muka saja, tetapi harus dari dalam diri. Penggunaan ornamen di dahi (seperti mata ketiga) ini juga bermakna, sebagai seorang istri harus jeli dan pandai melihat segala situasi. Termasuk penggunaan cincin yang ternyata setiap jari memiliki makna sendiri-sendiri, hanya jari tengah saja yang tidak boleh dipakaikan cincin karena sebagai jari tertinggi, jari tengah memiliki makna ke-Tuhan-an.


Lukisan 9 putri yang sedang menari menjadi penutup rangkaian tour di Ullen Sentalu. Tari Bedhaya Ketawang yang menampilkan 9 putri pilihan untuk mementaskan tarian tersebut. Yang unik terlihat 1 bayangan wanita sebagai sosok ke 10 yang diyakini sebagai Kanjeng Ratu Kidul yang ikut menari. Dari cerita tarian ini juga persepsi kami tentang sosok ke 10 ini diluruskan, ternyata Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul adalah 2 tokoh yang berbeda. Penguasa pantai selatan adalah Kanjeng Ratu Kidul sedangkan Nyi Roro Kidul hanya patih dari Kanjeng Ratu, selain tentunya ada patih lain yang bernama Nyi Blorong.


1 jam tanpa terasa kami habiskan untuk menyerap semua informasi yang diberikan guide kami. Sangat menarik, banyak pengetahuan baru yang bisa didapat walaupun agak sedikit sulit untuk mengingat semua info yang dilontarkan oleh guide. Terakhir kami diperbolehkan untuk berfoto di replika fragmen Candi Borobudur yang di letakan secara miring. Sebelum beranjak pergi guide kami sekali lagi memberikan informasi tentang fragmen yang dibuat miring ini.
Minat akan sejarah yang terus merosot

"Maknanya adalah untuk menggambarkan bahwa saat ini minat anak muda terhadap sejarah sudah sangat minim bahkan terus menurun"

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya








Berita duka cita, Tanggal 10 Oktober 2015, Gusti Nurul sang Putri Dambaan telah meninggal dunia di usia 94 tahun. 
Semoga jalan Beliau dilapangkan dan diberi tempat terbaik di sisi-Nya.
Gusti Nurul, Putri Dambaan

  • Share:

You Might Also Like

8 comments

  1. Wajib visit nih, penasaran sama yang ada di dalam kampung kembang.

    BalasHapus
  2. Pakubuwono dan istri nya bagaikan langit dan bumi, yang atu ramping dan yg atu xxxxxx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dompetnya juga ga berseri kan isinya

      Hapus
    2. ahhahah tau banget bang :D

      Hapus
  3. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pariwisata dengan sejumlah tempat wisata yang menarik. Sangat menginspirasi untuk tempat-tempat wisata yang menarik dan penuh dengan suasana baru di Indonesia.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai pariwisata yang bisa anda kunjungi di www.pariwisata.gunadarma.ac.id

    BalasHapus
  4. Wah wajib masuk list ini, apalagi di Jogja dekat dengan tempat tinggal,,, lebih mupeng lagi ternyata museum ini termasuk Museum terbaik di Indonesia lagi,,,

    BalasHapus
  5. Kampung kembang? bikin penasaran banget deh heheh

    BalasHapus