PESONA LABUAN BAJO DI TENGAH GELIAT MODERNISASI

By Ang Leonard Anthony - 20.19


Sepuluh tahun lalu, acara bertema traveling mungkin masih bisa dihitung dengan jumlah jari di 1 telapak tangan. Satu acara yang menarik hati saya saat itu adalah Jejak Petualang dengan host Mba' Riyanni Djangkaru. Dan yang sangat sering terngiang di telinga saya saat itu adalah satu daerah bernama Labuan Bajo. Sepuluh tahun lalu saya berangan-angan suatu saat saya akan menginjakkan kaki saya di Labuan Bajo tanpa tahu ada apa di sana. Yang saya tahu kelak saya akan menunggu indahnya matahari terbenam sambil menyaksikan kapal berlalu lalang membelah perairan berwarna keemasan dan bertegur sapa dengan penduduk murah senyum di kota pelabuhan kecil di timur Indonesia.

Kota pelabuhan Labuan bajo




Tampak luar saya mungkin tidak terlihat letupan kegembiraan, berusaha melenggang santai di karpet biru sepanjang selasar menuju bangunan bandara Komodo Labuan Bajo, tapi dalam hati saya bersukacita angan-angan 10 tahun lalu kini ada di depan mata saya. Entah masihkah sama keadaan Labuan Bajo 10 tahun lalu saat saya menyaksikan keindahannya melalui layar kaca dengan saat ini. Dari apa yang saya dengar dan baca, Labuan Bajo kini tak ubahnya kota yang menggeliat meninggalkan rasa tradisionalnya. Belum lagi semakin padatnya penginapan, restoran, dive center, warung souvenir dan sebagainya yang ujungnya selalu berimbas pada melimpahnya produksi sampah.

Senja Labuan Bajo
Senja Labuan Bajo 2

Tanpa pernah tahu bagaimana keadaan 10 tahun lalu di Labuan Bajo, kini saya tetap menikmati terik matahari yang menyeruak menyapa hangat di badan walaupun harus berbagi dengan kokohnya banguan-bangunan penginapan, restoran, toko souvenir. Saya tetap menghirup harum pantai walaupun baunya sedikit amis dan seringkali malah aroma pembakaran knalpot kendaraan bermotor yang tercium. Saya tetap menatap indahnya pelabuhan berlatar pulau-pulau kecil yang disinari matahari senja walaupun kadang melintas kapal cargo yang terlihat kontras dengan kapal-kapal Pinisi atau kadang debu yang menghambur membuat pedih mata saat kendaraan-kendaraan besar melintas. Saya tetap tersenyum bertegur sapa dengan penduduk setempat walaupun kini banyak warga pendatang dan unsur modernitas yang sudah melekat di penduduk lokal.
 
Kota pelabuhan Labuan Bajo 2
Senja di pelabuhan

Apapun situasi yang terjadi di Labuan Bajo, sedikitpun tidak mengurangi sukacita saya. Bukan perjalanan terjauh saya, sulit pun tidak. Tapi rasa senang yang membuncah karena angan-angan yang terwujud terus menggelayut mengesampingkan segala macam hal berbau "walaupun" yang menentang keindahan Labuan Bajo. Tak henti saya dibuat kagum dengan indahnya paras Labuan Bajo, saya melangkah menjauh dari keramaian. Adalah Bukit Waecicu, hmmm... saya membayangkan mungkin 10 tahun lalu inilah wajah Labuan Bajo. Kota kecil di pinggir pantai dengan kontur berbukit. Dari atas Bukit Waecicu saya bisa menatap bibir pantai yang berlekuk indah. Barisan bukit hijau menguning diterpa hangat matahari sore beradu kontras dengan birunya laut dan langit. Tak terasa sang surya bergulir perlahan sebagai tanda saya untuk segera meninggalkan hening dan tenangnya Bukit Waecicu untuk kembali ke keramaian kota pelabuhan. Entah berapa kali saya berhenti untuk mengabadikan indahnya senja di Labuan Bajo, di setiap belokan selama perjalanan pulang menuju penginapan.
 
Bukit Waecicu
Kota berbukit di bibir pantai

Wajah Kota Labuan Bajo memang kini berbenah mengikuti perkembangan zaman. Satu hal yang saya yakin, sapaan sang senja di Labuan Bajo tidak akan pernah berubah, tetap dengan keindahannya. Geliat modernisasi berpadu dengan keindahan alam asalkan dalam porsi yang pas pastinya akan membuat Labuan Bajo semakin menarik untuk dikunjungi. Semoga dalam 10 tahun mendatang alam Labuan Bajo tidak tergerus habis modernisasi, tetap selaras dengan alam. 

Labuan Bajo
Jalan-Jalan Jeprat-Jepret


Ashadi Trip 
Telp : 0899 7888 584 / 0812 2072 721
Instagram : @ashadinatha

  • Share:

You Might Also Like

6 comments

  1. Fotonya bagus bagis mas.tiba tiba jadi kekurangan vitamin sea heje

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi sdh mampir mas, kekurangan vitamin sea bisa berakibat mudah terserang penyakit mas. Segerakan utk dipenuhi kebutuhan vit sea nya ya :p

      Hapus
  2. Asik tulisan nya. Masih to be continued kan??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lanjut dong ini kan baru part 1 di Bajo

      Hapus
  3. Meleleh deh..... Canggih ya kak gelas nya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meleleh kenapa nih? Ada apa dengan gelas? Haha

      Hapus