IT'S A PIECE OF HEAVEN AT GILI LAWA

By Ang Leonard Anthony - 13.12



"Kita harus memutar bukit, kurang lebih 1-2 jam untuk sampai ke puncak"


Keraguan muncul di benak kami saat melihat jalur pendakian Gili Lawa yang mencapai 60 derajat saat menjelang puncak. Apalagi teman saya sempat tumbang saat melakukan pendakian di Pulau Kelor dengan tinggi yang tidak seberapa itu. Puncak Gili Lawa mungkin tingginya 2 kali dari Pulau Kelor. Salah seorang ABK, Adrian, akhirnya menawarkan untuk mengantar kami melewati rute yang lebih mudah dengan konsekuensi waktu tempuh yang lebih lama.


Di puncak Gili Lawa

Kami sempat tercengang, apa iya kami harus berjalan kaki 2 jam sementara teman-teman lain yang mendaki 60 derajat hanya butuh waktu 15-20 menit untuk mencapai puncak? Ahhh... yang penting kami bisa sampai di Puncak Gili Lawa dengan selamat walaupun harus mengorbankan waktu dan jarak yang lebih panjang.
 
Panorama Gili Lawa

Kawanan rusa dan puji syukur di Gili Lawa
Petang kedua kami merapat di bibir Pulau Gili Lawa. Tak seperti Padar yang mengharuskan kami berkano untuk ke tepi pantai, di Gili Lawa kami bisa merapat hingga ke bibir pantai dan menghabiskan sisa petang kami di pasir lembut berlatar savana  yang dibentengi bukit-bukit menguning Gili Lawa. 
 
Kawanan Rusa

Kawanan rusa terlihat mendongakkan kepala saat mesin kapal berderu keras sebelum labuh di bibir pantai. Mungkin mereka terusik atau mungkin mereka menyapa manusia-manusia kota yang sedikit norak kegirangan melihat 4 sampai 5 ekor rusa yang sedang merumput. Bukan dari balik teralis besi, memang rasanya berbeda saat melihat kawanan rusa ini ada di habitat aslinya.
 
Berlabuh di Gili Lawa

Berbeda dengan sang Komodo yang terlihat acuh saat ada manusia mendekat, kawanan rusa ini bergerak menjauh begitu kami menjejakkan kaki di daratan Gili Lawa. 2 ekor rusa bahkan menghilang di balik bukit sementara 2 lainnya hanya bergerak sedikit menjauh dan melanjutkan merumput. Kami adalah tamu bagi mereka, kami memutuskan untuk tidak mengusik mereka lebih lanjut.
 
Menjelang petang

Jalan-Jalan Jeprat-Jepret
Layaknya Padar yang dipenuhi dengan spot-spot indah, kami juga tidak ingin melewatkan keindahan Gili Lawa apalagi saat itu terang masih menemani. Kami mendaki bukit terdekat dan lagi-lagi kami disajikan dengan pemandangan yang sangat indah, rasanya tidak ada 1 pun sudut buruk di Kepulauan Komodo ini. 
 
Petang yang tenang

Cukup lama kami berada diatas bukit hingga gelap mulai menggelayut. Kami memutuskan untuk segera turun walaupun sedikit berat karena ini senja terakhir kami di Kepulauan Komodo. Tiba di bibir pantai kami membuat api unggun menikmati sejuk hembusan angin pantai. Dan ternyata terang lidah api mengundang beberapa ekor rusa mendekat. Cukup dekat mereka mengais pasir pantai...Rusa-rusa ini mungkin bergabung merayakan puji syukur kami yang diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya alam timur Indonesia.
 
Malam terakhir di Kepulauan Komodo

Kawanan bule dan kekaguman di Gili Lawa
Dari 10 peserta trip, 7 orang akhirnya memutuskan menempuh rute aman yang kami pilih. Gelap sepertinya membuat beberapa orang berpikir ulang untuk mendaki di kemiringan 60 derajat puncak Gili Lawa. Tanpa ada beban untuk mengejar matahari terbit, kami berjalan santai menikmati hangat pagi yang mulai menerpa. Benar memang baru sekitar 15 menit kami berjalan, kami mendengar teriak bahagia 3 teman kami yang telah sampai lebih dahulu di puncak Gili Lawa. Mereka menyemangati kami untuk bergegas menyusul mereka. Rute yang kami tempuh memang jauh, tapi terbukti rutenya sangat mudah dengan banyak jalur datar.
 
Gerbang menuju ke Kepulauan Komodo

Ternyata hanya 1 jam kami hampir tiba di puncak Gili Lawa. Mendekati puncak banyak tumpukan batu yang disusun menyerupai monumen kecil oleh beberapa pengunjung sebagai penanda bahwa mereka pernah ada di puncak Gili Lawa. Kami tak lagi menghiraukan cerita 3 teman kami tentang sulitnya rute daki yang mereka tempuh. Kami terlalu terpesona dengan pemandangan dari atas Gili Lawa ini. 2 dataran yang menjorok ke tengah laut dari Pulau Komodo dan Pulau Gili Lawa seakan membentuk gerbang untuk masuk ke indahnya gugusan pulau-pulau di Kepulauan Komodo.
 
Monumen batu

Kami adalah rombongan pertama yang mencapai puncak Gili Lawa. Tak lama berselang sekawanan bule terengah-engah setengah merayap di bawah kami. Muka mereka merah padam terpapar terik matahari pagi belum lagi badan yang bermandi keringat. Setibanya dipuncak sambil mengatur napas dan mencari batu untuk duduk, mereka berceloteh tentang sulitnya rute pendakian yang mereka lalui. "15 minutes of hell" ujar mereka.
 
Panorama Gili Lawa dari puncak tertinggi

"15 minutes of hell but you will find piece of heaven up here"


Setelah kawanan bule ini berhasil mengatur napas dan menyadari betapa indahnya pemandangan dari puncak Gili Lawa, kami yang sudah cukup lama berada di puncak, perlahan mundur mempersilahkan kawanan bule ini terkagum-kagum akan indahnya alam timur Indonesia.
 
Gili Lawa

Hari terakhir namun bukan tujuan terakhir kami di Kepulauan Komodo. Gili Lawa telah menyajikan pemandangan indahnya untuk kami. Deru mesin kapal mulai meraung. Dari sisi kapal, di tengah savana terlihat kawanan rusa yang kembali menegakkan badannya menatap kapal kami menjauhi bibir pantai. Di atas puncak Gili Lawa terdengar teriakan puas dan kagum dari kawanan bule.
 
Jalan-Jalan Jeprat-Jepret

Mengutip pernyataan seorang bule yang masih sedikit terengah-engah
"Its a piece of heaven up here at Gili Lawa"

  • Share:

You Might Also Like

0 comments