PERBEDAAN ITU INDAH DI KERATON KASEPUHAN, CIREBON

By Ang Leonard Anthony - 12.42


Jabat tangannya terasa mantab sambil menyunggingkan senyum lantas beliau mengibaskan tangannya tanda bergegas untuk kami. Tergopoh-gopoh kami menyusul seorang bapak, yang saya terka telah berusia diatas 60 tahun namun masih berjalan dengan lincahnya. Atasan abu-abu berbalut kain batik hijau terang bermotif Mega Mendung dengan penutup kepala bermotif serupa. Sesekali beliau melempar pandang di atas bahunya memeriksa keadaan kami yang tertinggal di belakang karena sibuk mempersiapkan kamera.
 
Keraton Kasepuhan

Melambatkan langkahnya di antara bangunan yang terlihat seperti pendapa-pendapa kecil tersebar di halaman depan keraton. Siti Inggil, beliau berkata dengan lantang. Atau tanah tinggi dalam bahasa Indonesia. Memang, tanah tempat kami berpijak saat ini terlihat lebih tinggi menghadap langsung ke jalan di luar keraton, hanya parit besar yang menjadi pembatas antara jalan dan lingkungan keraton. Imajinasi kami berkelana saat zaman dahulu jalan ini dipadati oleh barisan prajurit yang sedang berlatih perang, memamerkan kemampuan berkuda, Sang Sultan dan keluarganya bergeming memantau dari pendapa bernama Malang Semirang. Ada 4 pendapa lain dengan nama berbeda untuk masing-masing golongan. Mande Pandawa Lima, Mande Semar Tinandu, Mande Pengiring dan Mande Karasemen mengekor setelah Malang Semirang.
 
Mande Karesmen di Siti Inggil

Gapura bata merah tanpa semen yang berhiaskan keramik
Membuyarkan lamunan kami di Siti Inggil, sang Bapak setengah menggiring kami untuk masuk ke dalam melewati sebuah gapura bergaya Hindu-Budha yang terbuat dari bata merah. Menurut beliau, gapura ini dibangun tanpa menggunakan semen sama sekali. Dan uniknya, gapura ini berhiaskan piring-piring keramik hadiah dari Negeri Tirai Bambu. Sekonyong-konyong bayangan akan puluhan kuda yang tertambat di halaman Pengada kembali bermain di imajinasi kami. Halaman ini dulunya memang digunakan untuk menambatkan kuda-kuda tamu keraton. Tajug Agung atau musala berada tepat di seberangnya, kami melintas dipandu beliau menuju ke bangunan utama keraton meninggalkan suara langkah prajurit yang bergema dalam imajinasi kami.
 
Perbedaan bentuk gapura sebagai salah satu bukti akulturasi budaya

Gapura putih beratap Joglo menjadi pembatas kami dengan area dalam Keraton. 1 penjaga berbadan tegap tersenyum menyeringai menyapa kami. Sang Bapak terlihat menyapa dalam bahasa daerah, mungkin beliau memintakan izin untuk kami. Pohon-pohon besar menaungi kami dari sengat mentari begitu kami mencapai sisi dalam keraton. Terlihat simteris penataan di dalam area keraton. Tepat di tengah terdapat sebuah taman, Bunderan Dewandaru. Taman berbentuk lingkaran dengan patung singa putih di tengahnya sebagai lambang dari Kerajaan Padjajaran.

 
Singa putih lambang Padjajaran

"Kemari"

Sambil melangkah ke sisi kiri Dewandaru. Seraya mendorong pintu kayu yang cukup besar, tepat di tengah ruang terdapat kereta kencana Sultan. Sang Bapak dengan kagumnya menjelaskan bahwa kereta tersebut adalah perpaduan budaya yang dilambangkan dengan hewan. Perpaduan antara burung, gajah dan naga yang menciptakan bentuk Kereta Singa Barong. Di dalam ruangan masih terdapat tandu-tandu yang digunakan permaisuri dan anggota keluarga Keraton. Saat menjelaskan tentang lukisan Prabu Siliwangi, kekaguman kembali tersirat dari nada suaranya. Seperti lukisan-lukisan di Ullen Sentalu, Lukisan Prabu Siliwangi terkesan 3 dimensi saat sorot mata dan arah kakinya selalu searah dengan arah manapun saat kita memandangnya. Melanjutkan ke bangunan di sebelah kanan Dewandaru, beliau seakan bangga dengan koleksi yang dimiliki oleh Sultan. Berbagai buah tangan dari negara-negara tetangga, Eropa, India, China, tertata rapi di ruangan ini. Sedikit terkekeh beliau menunjuk salah satu hiasan dinding berupa kayu berpahat. Ternyata buah tangan dari India ini menggambarkan posisi bercinta atau yang lebih dikenal dengan Kama Sutra.
 
Kereta Singa Barong
Lukisan Prabu Siliwangi

Bergegas ke bangunan utama keraton, beliau hanya mengizinkan kami untuk menjejakkan kaki di beranda keraton. Di balik pintu hijau merupakan area pribadi Sultan yang tidak dapat dikunjungi oleh semua pengunjung. Di bangunan beranda ini saja kami sudah di buat tercengang dengan perpaduan budaya yang ada, unsur Jawa, China dan Eropa. Keramik-keramik yang tersebar di dinding beranda keraton ini cukup membuat saya tercengang karena menuturkan tentang ayat-ayat Alkitab seperti penggambaran penyaliban Yesus. Beberapa keramik pun terlihat dipasang miring, bahkan terbalik. Tanpa bermaksud menghina, keramik yang tersusun acak ini bermakna agar siapapun yang mempunyai pandangan harus dapat melihat dari segala macam arah tanpa terterungku di satu sudut.
 
Di balik pintu hijau adalah area pribadi keluarga Sultan
Hiasan keramik yang bercerita tentang Alkitab

Di ujung perjalanan, sang Bapak mengizinkan kami untuk tinggal lebih lama di Bunderan Dewandaru. Berkelana selama 1 jam di kompleks Keraton tak menyurutkan langkah semangat beliau untuk terus mewartakan sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon. Terpekur dinaungi pohon beringin di samping bangunan kereta kencana, imajinasi kami masih terus saja berkelana dan terperangah di keraton termegah di Kota Cirebon. Saya sendiri sangat terkagum-kagum dengan akulturasi budaya yang ada di Keraton Kasepuhan. Menegaskan betapa indahnya perbedaan, perbedaan bukan untuk memecah belah tetapi menjadi dasar untuk membangun sesuatu yang kokoh dan indah. 

Beranda utama keraton

  • Share:

You Might Also Like

8 comments

  1. Informasi yang sangat bagus dan indah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah memberikan informasi dan gambaran didalamnya jadi terasa ikut hadir/berada disana.

      Hapus
  2. Cirebon yg ada di otak gw cuman makan hahaha

    BalasHapus
  3. memang kerton kasepuhan ini tempatnya keren ... asyik untuk di kunjungi, sayang museum-nya kurang ditata ... jadi terkesan dibiarkan seadanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, tapi dibanding keraton lainnya ini sudah paling baik

      Hapus