SEPENGGAL KISAH BOSCCHA DI MALABAR, BANDUNG

By Ang Leonard Anthony - 10.46


Bagai permadani di kaki langit, gunung menjulang berpayung awan.

Sepenggal kisah Bosccha di Malabar

Sepenggal lirik lagu anak ini persis seperti apa yang kami lihat begitu memasuki Perkebunan Teh Malabar. Hamparan perkebunan teh membentang sejauh pandang, berlatar barisan bukit hijau yang dipayungi awan kelabu. Harum tanah basah menyergap saat kami mematikan mesin pendingin dan membuka kaca lebar-lebar. Damai dan sunyi siang itu saat kami menyusur liku aspal di antara hijau daun teh. 10 menit sejak meninggalkan gerbang utama Perkebunan Teh Malabar, rumah bergaya khas Belanda menyambut di sisi kanan jalan. Rumah peninggalan sang Meneer, Karel Albert Rudolf Bosccha.
 
Menjemput pagi di Malabar
Rumah Bosscha di Malabar


Sejuk bergulir berganti hangat saat memasuki kediaman Bosccha. Langit-langit yang rendah mampu menimbulkan suasana hangat. Terlebih saat memandang gambar diri Meneer Bosccha, pria gemuk berkumis dengan senyum simpul, tidak ada kesan seram, hanya kehangatan seorang tuan rumah yang menyapa tamu yang berkunjung. Hampir seluruh isi rumah Bosccha ini adalah asli peninggalan dari beliau. Piano besar yang masih berfungsi hingga furniture di beberapa sudut ruang. Hanya kamar Bosccha saja yang sempat mendapatkan renovasi cukup banyak karena rusak saat terjadi gempa di Pangalengan.
 
Jendela-jendela besar yang memberikan kehangatan saat mentari menyapa
Hangat saat masuk ke rumah Bosccha
Meja kerja di kamar Bosccha


Halaman kediaman Bosccha yang cukup luas kini difungsikan untuk penginapan. Ada yang berupa kamar ataupun villa kayu yang mampu menampung hingga 8 orang dewasa. Udara dingin khas pegunungan, bukit-bukit hijau akan menjadi teman saat bermalam di sini. Belum lagi kabut yang menyapa setiap menjelang senja dan saat mentari pagi masih meringkuk di balik bukit hijau. Jika beruntung, langit bertabur bintanglah yang menjadi teman saat terlelap di malam yang cerah
 
Berselimut kabut tipis
Villa kayu

Bosccha bukan hanya sekadar teropong bintang, Bosccha terlanjur identik dengan Lembang padahal di sini, di antara kebun teh, berselimut udara pegunungan, 50 Km dari pusat kota Bandung, Malabar-Pangalengan, banyak kisah tentang Bosccha yang terukir di sini.
 
Perkebunan Teh Malabar

129 tahun silam saat Meneer Bosccha, sang Juragan, menginjakkan kaki di tanah Hindia Belanda. 22 tahun usia Juragan saat itu. Beliau bekerja membantu pamannya di wilayah Sukabumi sebelum akhirnya hijrah ke Bumi Priangan tahun 1896. Di Malabar-Pangalengan, Juragan mendirikan perkebunan teh Malabar hingga mencapai luas 2.000 hektar. 2 pabrik teh juga didirikan yang masih berfungsi hingga sekarang. Juragan bukan seorang Londo kebanyakan saat masa penjajahan. Juragan memiliki tempat khusus di hati masyarakat saat itu. Beliau memajukan perekonomian warga lokal dengan mempekerjakan mereka di pabrik teh milik Juragan. Dengan sifat dermawannya, Juragan mendirikan rumah-rumah untuk para pekerja, bahkan sekolah pun didirikan agar para pekerja tak buta aksara. Sekolah yang awalnya bernama Vervolog Malabar berjarak tak jauh dari kediaman beliau sampai saat ini masih beraktivitas dengan nama Sekolah Dasar Malabar.
 
Sisi rumah Bosccha

Bukan hanya masyarakat Malabar yang merasakan jasa dari sang Juragan, kini seluruh masyarkat Indonesia layaknya berterima kasih kepada Juragan. Technische Hoogeschool te Bandoeng - sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah salah satu peninggalan dari Juragan Bosccha. Dan yang paling terkenal adalah peninggalan beliau di Lembang, Observatorium Bosccha. Beliau bukan seorang astronom, tapi beliau adalah penyandang dana terbesar yang membeli Teleskop Refraktor Bamberg dan Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, teleskop tertua dan terbesar yang ada di dalam Observatorium Bosccha yang kini menjadi landmark di Bandung Utara.
 
Observatorium Bosccha. Sumber https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/7f/Bosscha_001.JPG

November 1928 mungkin tahun berkabung bagi seluruh masyarakat Malabar. Sang Juragan meninggal di pangkuan salah satu pekerjanya. Beliau meninggal karena penyakit tetanus yang terinfeksi saat Juragan terjatuh dari kuda di Bukit Nini, bukit di belakang rumah Juragan. Sesuai permintaan terakhir beliau, sang Juragan dimakamkan di tengah Perkebunan Teh Malabar. Hutan kecil menaungi rumah abadi sang Juragan. Warga Malabar, terutama para pekerja di Rumah Bosccha, penginapan dan pengurus makam, percaya jika Juragan Bosccha kadang terlihat di beberapa lokasi. Bermain piano di rumah, mengawasi produksi di pabrik teh, atau sekadar bersantai membaca koran sambil menyeruput teh di samping pusaranya sendiri. 
 
Tempat peristirahatan terakhir Bosccha

Jasanya, kearifannya, sifat dermawannya hingga kini masih dikenang dengan baik oleh warga Malabar, terlebih untuk beberapa pribadi yang sempat mengenal Bosccha secara tidak langsung. Salah satunya penjaga makam Bosccha yang merupakan putra dari pekerja pabrik saat Bosccha masih menjabat sebagai petinggi di pabriknya.
 
Bernaung di bawah rindang hutan kecil

"Meneer masih ada di antara kita, hanya jarak yang memisahkan. Beliau mengangkasa tinggi bersama planet dan selaksa bintang di atas sana. Karelbosccha, planetoid dengan nama Meneer untuk selalu melukiskan kenangan indah tentang beliau"

Karel Albert Rudolf Bosccha, Sang Meneer, Juragan teh berhati mulia

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. Lembang (bandung utara) identik sm teropong bosscha ya, pdhl seumur hidup nya bosscha lebih banyak tinggal di pengalengan (bandung selatan)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ternyata bosccha lebih betah di tengah kebun teh

      Hapus
  2. Kerennnn. Jadi tahu bahwa Bosccha tidak melulu teropong bintang aja, masih ada peninggalannya yang lain. Makam dan bekas kediamannya menarik buat dikunjungi. Nice share ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir di blog saya mas halim :)

      Hapus