JELAJAH MALAM DI LAWANG SEWU

By Ang Leonard Anthony - 22.11

Dia berdiri angkuh bergeming menatap lalu lalang modernitas di salah satu sudut Jalan Pemuda. Memandang lekat kearah Tugu Muda yang dibanjiri cahaya warna-warni dan riuh rendah canda tawa muda-mudi Semarang. Di tengah gelapnya hari dia bermandikan cahaya keemasan. Entah kenapa ada rasa berbeda setiap menatapnya apalagi saat hitam melatari dirinya. Angker seketika menyeruak, imajinasi liar tentang kelam masa lalu pasti bermain hebat di dalam kepala. Salahkan sejarah yang pernah menyematkan potongan kelam masa lalu pada dirinya.

Lawang Sewu
Pukul 8 malam itu, saat sebagian orang beranjak pergi tapi kami baru saja tiba menyambanginya. Dia masih berdiri kokoh tak tergerus masa meskipun usianya menjelang 109 tahun. Tak ada gurat lelah hanya beban sejarah kelam yang dipeluknya. Berkali-kali dia berganti nama seiring dengan tugas yang diemban di pundaknya. Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, begitu namanya saat dia terlahir tahun 1907. Sampai akhirnya kini kami mengenalnya dengan nama Lawang Sewu. Bangunan seribu pintu, begitu tanah air menggambarkan sosoknya walaupun tak ada yang tahu pasti berapa tepatnya jumlah pintu yang dimilikinya. Di halaman depan kami terpukau mengagumi sosoknya. Perasaan saya mengatakan, saat gelap, dirinya justru terlihat lebih berkarakter, antara megah dan mistis yang melebur.


Menatap lekat Tugu Muda
Deretan pintu di Lawang Sewu
Berdiri angkuh di gelap malam

Seorang abdi menemani kami untuk berkenalan lebih dekat dengan Lawang Sewu. Lorong demi lorong, pintu demi pintu, satu persatu anak tangga menyapa kami. Tuan rumah yang baik pikir saya karena dia membuka lebar semua pintu. Sementara tetamu lain hanya bisa mengenalnya di lantai 1, kami mendapat keistimewaan untuk mengenalnya hingga ke lantai 3. Bahkan menara kembar yang mengapit dia dapat kami sambangi di bagian teratas
 
Lawang Sewu kini bersih dan terawat
Selasar luar Lawang Sewu

Lantai 1 memang banyak bertutur tentang kisah per-kereta apian di tanah air, sementara lantai 2 dibiarkan hanya ruang-ruang kosong yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk gallery atau jamuan makan sementara lantai 3 hanya ruang sepi tak berisi yang dulunya merupakan area dansa. Menara yang terlihat mengapit dia tak lain adalah menara penampungan air. Aroma kotoran kelelawar menyeruak begitu pintu menara terbuka, tak heran karena mungkin area ini sangat jarang disinggahi tamu Lawang Sewu
 
Tangga menuju lantai 2 yang tertutup untuk umum
Ruang dansa, ruang pembantaian hingga kini dibiarkan kosong

Pendar menguning di setiap sudut menegaskan kesan lampaunya namun tak sedikit yang meresapinya sebagai penggambaran kelam masa lalu. Sejarah menorehkan pernah terjadi pertempuran 5 hari antara anak bangsa dengan tentara negeri matahari terbit. Pertumpahan darah, penyiksaan dan segala hal keji yang terpaksa membayangi dia hingga kini. Satu ruangan kini terlarang bagi para tamu. Ruang bawah tanah yang awalnya hanyalah tempat penampungan air sempat menjadi ruang yang penuh dengan keputusasaan. Ruang untuk menyekap para pemberontak hingga ajal menjemput. Saya sempat menjulurkan kepala menengok ruang bawah tanah. Gelap dan dingin yang terasa dari lubang yang menganga di lantai. Pengelola menutupnya dengan alasan keamanan karena konon katanya lorong-lorong bawah tanah ini dapat menyesatkan bahkan dapat tembus hingga ke laut.
 
Wajib menggunakan pemandu agar tidak tersesat (in frame : Hartadi Putro)

Seribu pintu di Lawang Sewu
Lebih dari 1 abad usianya kini. Upaya pemerintah untuk tetap meremajakannya terus digulirkan. Membuatnya terus menjadi salah satu ikon Kota Semarang. Sejarah kelam bukan lantas menenggelamkannya namun tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu daya tarik bagi pelancong untuk mengunjungi dia, Lawang Sewu.

Jalan-Jalan Jeprat-Jepret (Photo by : Taufan Gio)

Catatan C4ME :
Tulisan ini sebagai bagian dari kegiatan FamTrip yang diadakan oleh Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) dalam rangka mengangkat potensi wisata di Kota Semarang. Tanggal 6-8 Mei 2016 adalah suatu kebanggaan untuk saya karena ikut serta menjadikan #SemarangHebat menjadi trending topic. Terima kasih Semarang, terima kasih Bapak Hendrar Prihadi, terima kasih BP2KS 

Link teman-teman Blogger:
Kak Rian Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang
Kak Rico  dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Kak Sinyo FamTrip Bikin #SemarangHebat jadi Trending Topik (Part1)
Kak Vika Ada Gusdur di Pecinan Semarang
Kak Eka  Semarang Night Carnival 2016
Kak Badai Semarang Hebat Culinary Heritage
Kak Danan Dongeng Rasa di Restoran Semarang
Kak Imama Hantaman Jeram Kali Kreo
Kak Chan Ada Tiongkok di Semarang
Kak Titi Gebyar Fantasi Warak Ngendok di Semarang Night Carnival 2016
kak Wira Photo Essay : Semarang Night Carnival

  • Share:

You Might Also Like

24 comments

  1. Hasil bluffing semalam tapi lengkap gini, ckckck! Salut deh kak Leo!

    Belum puas sih foto2 selfie di Lawang Sewu malam hari, tapi waktu itu mood-nya udah bolong, hahaha, mungkin kebanyakan ngemil gandjelrel ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha jadi malu...
      Moodnya bolong kecapean apa kekenyangan kak?

      Hapus
  2. Yuk, jelajah Lawang Sewu lagi dengan mood yang rapet! :D

    BalasHapus
  3. Mood rapet, mood bolong, ini opo toooo?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anu, Kak.. aku lagi belajar binal.

      Hapus
  4. lengkap tentang lawang Sewu ! ahayy !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga lengkap nu, kl lengkap koq ya horor bgt bacanya, jd dipangkas sana sini hahaha

      Hapus
  5. Foto terakhir jelas menandakan klo semua ingin famer kameha :) #SemarangHebat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena pamer kancut sudah dipatenkan

      Hapus
  6. kak Leo.. anu di ruang dansa itu.. anu.. ah sudahlah... *lalu melipir

    BalasHapus
  7. lawang sewu ternyata tidak seseram yang dibayangkan. ya mungkin setelah revitalisasi ini semua jadi bersih dan terang. konon dulunya pesing, bau aneh, banyak gembel, dan gelap. jadi sangat seraaamm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang mewah walaupun angkernya ttp nempel ya

      Hapus
  8. aku baca ini udah serem kak, makanya pas disana niat gak nulis cuma foto dikit, meskipun katanya gak serem tapi aku tetep takut :(

    BalasHapus
  9. ohh nih bangunan buka juga ampe malam toh.. kirain siang doank.

    BalasHapus
  10. gw ke lawang sewu siang bolong aja berasa horor om aplagi klo malam2, bisa pingsan..

    BalasHapus
  11. Pict nya bagus, sugesti horror lawang sewu jadi gak kerasa hehehe

    BalasHapus
  12. Lawang sewu udah direnovasi ya mas? dulu kan keliatannya angker banget :D

    BalasHapus