AKANKAH CANTIK MU ABADI, PANTAI GUNUNG PAYUNG?

By Ang Leonard Anthony - 21.19

Tebing kapur telah dipangkas rapi, menyisakan selaksa serpih kecil yang masih terserak di sepanjang jalan yang meliuk di tengah pahatan tebing kapur. Kering, panas menyengat, kami merayap mencari bayang tebing kapur untuk melindungi kami dari sengat mentari. Deru debu menari di sekeliling setiap kami melangkahkan kaki, peluh membanjir padahal kami baru berjalan tak jauh dari pelataran parkir.

Pantai Gunung Payung
3 atau 4 tahun kedepan mungkin tak ada lagi debu menyeruak menyesakkan paru-paru. Raksasa bermesin dengan cakar-cakar besi bertengger melandaikan bagian bergelombang. Entah penginapan, cafe atau toko souvenir yang nantinya akan bersemayam di sana menjual keelokan lepas pantai dari ketinggian. Sekilas pemandangan ini mengingatkan saya akan Pantai Pandawa beberapa tahun silam saat Pandawa masih giat bersolek. 
Diantara tebing yang telah dipapas
Di ruas jalan terakhir tebing kapur tak lagi membentengi, hanya sisi kanan menyisakan bukaan lebar di sisi kiri. Sesak debu dihempas oleh aroma pantai. Semilir angin menerpa di kiri kami mengusap peluh yang membanjir di kening. Setengah perjalanan telah saya lewati sebelum menuruni ratusan anak tangga untuk tiba di tempat tujuan. Entah kenapa siang itu saya lebih bersemangat saat melihat ratusan anak tangga menembus hutan kecil yang bertengger di sisi tebing. Rasanya lebih menyejukkan saat bernaung di jalinan pepohonan yang menghalangi sinar mentari. 
 
Ratusan anak tangga untuk menuju Pantai Gunung Payung

Dari ketinggian Pantai Gunung Payung
Sepasang keturunan Adam dan Hawa beringsut menjauh ketika menyadari kehadiran saya di anak tangga terakhir sebelum melesakkan kaki saya di permadani pasir putih. Tak terlihat jejak tertinggal di pasir sepanjang mata memandang. Pantai ini memang masih terbilang sepi. Menjauh di sisi kiri, 2 insan terlihat sedang tertawa mesra. Sejoli ini hanya melempar senyum sejenak ke arah saya lalu melanjutkan kisah romantisnya. Sepi berlatar suara ombak dengan sapuan air laut biru kehijauan, semesta mendukung menaburkan romantisme di udara. Maafkan insan yang tengah menikmati aroma romantis, bukan maksud saya memecah romantisme yang tengah kalian hirup perlahan.
 
Pantai yang sepi

Tak ingin menganggu sepasang sejoli, saya terus melangkahkan kaki menjauh ke sisi kiri. Beruntungnya saya menemukan tebing dengan cerukan raksasa yang menghalau terik matahari. Kosong tak berhuni, saya mencoba menikmati aroma romantis. Menikmati ombak yang berkejaran hingga menyapu lembut jari-jari kaki, menatap gradasi air laut yang menyejukkan diiringi desau angin, rasanya romantisme telah saya temukan dalam damai.
Ceruk besar di sisi tebing yang memayungi dari terik matahari
Temukan kedamaian di Pantai Gunung Payung
Pantai Gunung Payung, saya menemukan damai di sana bersama sepasang sejoli yang menemukan kisah romantismenya. Pantai Gunung Payung yang mulai bersolek berbenah diri. Semoga kecantikanmu nanti tak membutakan insan-insan serakah yang akan mengeksploitasi keelokanmu. Dimana lagi akan kami temukan kisah romantis saat permadani pasir putih telah dipenuhi jejak langkah? Dimana lagi kami temukan damai saat relung sepi telah dipenuhi barisan beton? Pantai Gunung Payung, akankah cantik alami mu kan abadi?

Catatan C4ME :
1. Pantai Gunung Payung terletak di desa Kutuh, Kabupaten Badung, dekat dengan lokasi Pantai Pandawa.
2. Rute menuju Gunung Payung : Jalan Raya Uluwatu-Perempatan belok kiri ke arah Pantai Pandawa/Melasti (Jln Pura Batu Pageh)-Menuju jalan Nusa Dua Selatan-Di perempatan Pantai Pandawa mengambil jalan lurus hingga bertemu perempatan selanjutnya lalu berbelok ke kanan. Patokannya terdapat Pura Gunung Payung.
3. Tidak ada tempat bilas di pantai ini.


Jalan-Jalan Jeprat-Jepret

  • Share:

You Might Also Like

8 comments

  1. Cakep nih pantainya masih sepi, oh deket pandawa pantesan agak familiar ama tebing2 yg di papasnya


    Salam kenal dr blogger ala2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mas Budy, Iya pantai ini berdekatan dengan pandawa dan melasti

      Hapus
  2. eh, deket sama Pandawa ya.. kalo ke Pandawa udah pernah sih, cuma ga sampe main ke pantai-pantai tetangganya. yang sepi sepi gini nih yang enak. jadi kangen mantai di Bali euy! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya deket dengan pandawa dan melasti, cuma kabar terakhir pantai ini ditutup krn mau dibangun hotel :((

      Hapus
  3. Aihhh.. kerennya .. pantainyaa...

    BalasHapus
  4. Ombaknya kayaknya kenceng yak? Bisa nyelemkah? Cantik banget pantainya ih.

    BalasHapus