12 TAHUN MENGENANG TSUNAMI DI MUSEUM TSUNAMI ACEH

By Ang Leonard Anthony - 11.00


Pukul 8 pagi saat Aceh mulai menggeliat di Minggu pagi. Di pesisir Lampuuk, seorang bapak mengucap salam kepada keluarganya. Dia berjalan menyusur tepi pantai menuju perahu kayunya. Bersiap mencari tambahan hasil jaring di jermal tak jauh dari bibir pantai. Para ibu bergegas menuju pasar ikan di Ulee lheue sambil memutar otak "masak apa saya hari ini untuk buah hatiku" Jalanan mulai dipadati hilir mudik warga saat bumi berguncang hebat. Gempa dengan kekuatan hebat meluruhkan beberapa bangunan di Aceh. Belum reda rasa panik, dentum menyerupai meriam terdengar jauh di tengah lautan. Kala itu bunyi letupan senjata memang tak asing bagi warga saat terjadi pergolakan di Serambi Mekkah. Warga di pesisir pantai berlomba memunguti ikan yang menggelepar saat air laut surut jauh ketengah samudera. Tak ada tanya di benak mereka, apa gerangan yang terjadi.
Museum Tsunami Aceh


Tetiba ombak setinggi puluhan meter berkejaran kembali ke bibir pantai siap menyapu apa saja yang menghalanginya. Aceh panik seketika kala itu. Jalan-jalan mulai digenangi air keruh yang membawa serta puing-puing, pepohonan, reruntuhan bangunan, lalu tanpa aba-aba sang ombak sudah menerjang dengan kecepatan menyamai kecepatan pesawat. Hitungan detik Aceh tenggelam dalam air keruh, puing-puing dan ribuan jenazah.
Mengenang para korban tsunami

Hari ini tepat 26 Desember, 12 tahun berlalu sejak bencana besar mengguncang dunia. Duka masih meremang tiap kali mengingat kejadian yang merenggut ratusan ribu nyawa saudara-saudara di bumi Serambi Mekkah. Terlebih saat saya mempunyai kesempatan mengunjungi salah satu situs untuk mengenang tsunami, Museum Tsunami Aceh. Meski hanya gambaran sekilas, setidaknya museum karya Ridwan Kamil ini mampu membawa saya merasakan kekalutan yang terjadi kala itu.


Space of Fear

Lorong gelap dan sempit dengan air yang mengalir di dinding kiri dan kanan. Jalan yang sedikit menurun dan berair, hembusan angin dingin dan suara debur ombak mampu menghadirkan suasana saat gelombang tsunami menerjang. Gelap, basah dan dingin tentunya. Sayangnya suasana yang ramai dan pengunjung yang terus mendesak maju, saya tidak bisa mengabadikan lorong tsunami ini.
Sumber : https://3.bp.blogspot.com/-1AQ3gQhx3yc/V6aguLSTjsI/AAAAAAAAAeo/ioviKocA-w8plztfdbwAJl8huhkHdC1JACLcB/s640/lorang_cerobong_musium_tsunami_aceh.jpg

Space of Memory

Ruangan berdinding kaca ini menggambarkan kondisi bawah laut. Kebingungan para korban tsunami yang ditenggelamkan gelombang tsunami digambarkan dengan pantulan kaca. Cahaya remang di langit-langit merefleksikan cahaya matahari yang menembus ke dasar lautan. 26 monitor yang menganalogikan kondisi bawah laut yang berkarang menampilkan foto-foto untuk mengenang kedahsyatan tsunami.
Sumber :
http://www.bandaacehtourism.com/wp-content/uploads/2014/05/museum-tsunami_8563-620x413.jpg

Space of Sorrow

Memasuki sumur doa ini seketika duka mengudara. Lantunan ayat-ayat Alquran terdengar lirih pilu berkumandang mengiringi kurang lebih 2000 nama korban tsunami yang tercantum di dinding silinder setinggi 30 meter. Jauh diujung atas tulisan kaligrafi "Allah" terlihat indah dan sakral, menggambarkan bahwa semua mahkluk hidup akan kembali pada Sang Pencipta. Selain itu cerobong ini juga menggambarkan usaha para korban tsunami untuk keluar dari gulungan tsunami

Sumur Doa

Space of Confuse

Selepas berduka, lorong cerobong yang berputar-putar ini menggambarkan kebingungan warga Aceh setelah berhasil keluar dari murka tsunami. Kebingungan akan arah tujuan, kebingungan mencari sanak saudara yang hilang, dan kebingungan karena kehilangan harta dan benda. Lorong gelap yang semakin keatas menjadi terang sedikit demi sedikit untuk meyakinkan warga Aceh bahwa selalu ada jalan dan terang diakhir bencana.
Lorong berputar menggambarkan kebingungan mencari arah

Space of Hope

Jembatan yang membentang diterangi cahaya matahari menggambarkan secercah harapan untuk warga Aceh. 54 bendera negara dan batu bundar yang bertuliskan kata damai merepresentasikan negara-negara yang turut andil dalam membangun Aceh kembali. Damai pun diserukan agar tak ada lagi konflik meraja di bumi Aceh.
Jembatan Harapan

Selain ruangan-ruangan ini, di Museum Tsunami juga terdapat mini bioskop yang memutar video dokumenter saat terjadi tsunami. Bagaimana kalang kabutnya warga Aceh terekam jelas di video amatir. Dahsyatnya kerusakan yang disebabkan dan penggambaran wajah Aceh setelah tsunami menerjang. Aceh lumpuh total, jenazah bergelimpangan. Selain itu juga terdapat diorama dan ruang pamer pajang beberapa benda yang hancur terkena tsunami seperti alat rumah tangga dan sepeda motor. Di lantai 3 terdapat informasi yang cukup lengkap mengenai tsunami agar masyarakat, terutama warga Aceh lebih tanggap terhadap tanda-tanda yang muncul sebelum tsunami menerjang. Museum Tsunami ini juga dapat digunakan sebagai banguan evakuasi saat tsunami terjadi kembali. Bentuknya yang meruncing di kedua ujung berfungsi sebagai pemecah ombak layaknya bahtera.
Diorama yang menggambarakn Aceh setelah terjadi tsunami

Tanpa bermaksud membuka luka yang telah mengering, seperti halnya Museum Tsunami ini menjadikan tragedi tsunami sebagai pembelajaran, sebagai pengingat untuk lebih bersyukur, menanamkan bahwa ada kuasa Yang Esa  di atas segalanya. Jika boleh saya andaikan, Aceh seperti terlahir kembali, tsunami layaknya air yang mencuci semua luka lama dan menghadirkan Aceh yang baru. 12 tahun sudah kini tanah rencong berkembang pasca tsunami. Layaknya beranjak dewasa, Aceh kini lebih damai, lebih bersahabat dan menawan

54 negara yang membantu Aceh
Catatan C4ME :
1. Untuk lebih mendalami tragedi tsunami, ikutilah alur perjalanan per ruang dengan berurut.
2.  Saat gempa mengguncang Aceh 2012 silam, Museum Tsunami dijadikan lahan evakuasi oleh warga setempat karena dikhawatirkan terjadi tsunami 

Sumber : https://bandaacehkotamadani.files.wordpress.com/2012/08/museum-tsunami-aceh1.jpg

  • Share:

You Might Also Like

6 comments

  1. btw masuk museum tsunami ini bayar atau free sih?

    BalasHapus
  2. Begitu banyak kenangan di museum ini.

    BalasHapus
  3. Dulu cuma lewat aja museum ini...Semoga satu hari masih bisa kembali kesini..

    BalasHapus