KEDUNG PETI YANG TERSEMBUNYI DI BOJONEGORO

By Ang Leonard Anthony - 11.30

Dalam bahasa setempat si Ibu berujar sambil tersenyum. Entah apa yang diucapkan. Yang pasti, teman saya, Mas Edy memintakan izin untuk menitipkan kendaraan di rumah terakhir sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun Kedung Peti. 
"Monggo Mas, silakan dititipkan di sini" Hanya sepenggal kalimat itu yang saya mengerti. Senyum tulus dari sang Ibu mengiring langkah kami di tengah kelabu sore. Lalu percakapan beliau dan Mas Edy berlanjut kembali dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Namun dari gerak tubuhnya saya menebak kalau Mas Edy sedang menanyakan arah menuju Kedung Peti.
Kedung Peti

"Anak kota koq mau-maunya jauh-jauh ke desa cuma liat air terjun" Begitu kurang lebih Mas Edy menerjemahkan ucapan Ibu tadi. Kami tertawa ringan, karena kota sudah membuat kami penat. Begitu mungkin pikiran kami menjawab tanya sang ibu. 
Perjalanan kami di Kedung Peti
"Dari sini sekitar 2 Kilo, kurang lebih 30 menit"
Ujar Mas Edy yang berlaku sebagai pemandu kami. Jalan kami berawal di jalan setapak dengan sawah mengapit kami. Suara kencang tak berwujud mengiringi langkah kami. Nyanyian Kodok rupanya hendak menyambut hujan. Awan menggantung rendah di hadapan. Kami hanya bisa berdoa berharap semesta menunggu kami menyelesaikan perjalanan kami di Kedung Peti. Selepas persawahan kami masuk di perkebunan dengan jalan setapak berlumpur. 2 kali kami berpapasan dengan rombongan ibu-ibu yang menyandang satu dua ikat ranting di bahunya. "Munggah Mas" sambil menunjuk melewati punggung mereka. "Masih Jaauhhh" sepenggal kata yang saya mengerti. Kami hanya mengucap terima kasih atas informasi yang mereka berikan. Senyum-senyum tulus warga desa selalu menyenangkan dan menenangkan seakan menyemangati kami untuk terus melangkah.
Kedung Peti dengan struktur berundak
Melewati perkebunan, padang ilalang menanti kami. Jalan menurun dan berlumpur kini menjadi teman perjalanan. 2 dari kami, Kak Tracy dan Imama sempat beberapa kali harus merelakan pakaiannya kotor berpeluh lumpur. Memang butuh keseimbangan dan pijakan yang kuat saat menuruni jalan berlumpur. Mencari pegangan pun harus berhati-hati karena daun ilalang diselimuti duri-duri halus bahkan ada beberapa tumbuhan yang memang memiliki batang kecil berduri. Salah pegang bisa jadi tangan kami menjadi korban tersayat duri pepohonan.

"Masuk sungai sepertinya aman"
Baru selesai mengucap kalimat, Imama sudah terperosok dalam lumpur sungai hingga sebetis. Alhasil kami harus mencari rute lain. Kami harus merambat di bantaran sungai yang dipenuhi pepohonan. Sandal sudah kami lepas agar tidak terpeleset masuk sungai. Mencari pegangan dan mengamankan barang bawaan terasa sangat sulit kala itu.  
Bisa dipanjat namun harus ekstra hati-hati
Bahagia ketika kami tiba di telaga kecil berwarna kehijauan. Air Terjun Kedung Peti mengalir cukup deras kala musim penghujan. Mungkin lebih dari 10 meter ketinggiannya, namun jalannya terpecah di 2 tingkatan sehingga air terjun ini terlihat berundak mengaliri tebing berselimut perdu dan lumut. Telaganya pun hanya setinggi paha orang dewasa sehingga relatif aman untuk berenang di dalamnya. Sayangnya tak lama kami bisa mengagumi keindahan air terjun tersembunyi Kedung Peti. Rindang pepohonan menyebabkan telaga Kedung Peti terasa menjemput gelap lebih cepat. Niat ingin mandi-mandi pun kami urungkan. Kami bergegas naik, setidaknya kami harus menghargai semesta yang menahan turunnya hujan. 
Telaga kecil aman dipakai untuk mandi-mandi
Kembali ke tempat kami menitipkan kendaraan terasa lebih cepat, berlomba kami dengan gelap. Tak ingin terjebak gelap di tengah perkebunan tak berhuni. Penuh lumpur kami kembali meminta ijin untuk membersihkan kaki. Kali ini sang ibu mengajak serta suaminya berbincang dengan kami. Beliau bertanya tentang Kedung Peti, baguskah? indahkah? Beliau sepertinya masih tidak mengerti apa yang anak-anak kota ini cari hingga harus berlumpur ria. 
Kami senang dengan alam Bojonegoro yang masih sangat alami. Kami kagum dengan Kedung Peti yang tersembunyi dan kami tersentuh dengan keramahan penduduk lokal yang menyenangkan hati. 
Jalan-Jalan Jeprat-Jepret
Catatan C4ME :
1. Kedung Peti berjarak 1 jam dari pusat kota Bojonegoro.
2. Kedung Peti terletak di Desa Malo, Kecamatan Malo
3. Jika berkunjung pada musim kemarau rutenya akan lebih mudah namun air terjun terlihat sangat sedikit. Saat musim hujan, air terjunnya deras namun rute sedikit menyulitkan dan licin.
4. Gunakan alas kaki yang baik dan siapkan baju ganti.
5. Hindari berkunjung terlalu sore karena wilayah Kedung Peti benar-benar berada di tengah hutan kecil tanpa penerangan.

  • Share:

You Might Also Like

11 comments

  1. Wah kawasan kedung petinya memang bener-bener masi alami.
    kayaknya masih sedikit banget ya yang dateng kekawasan itu ya,
    Semoga nanti kalo tempat ini ngehits jangan sampe di rusak sama nak nak alay :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mas, jangan sampe dirusak hehe

      Hapus
  2. Seneng banget kalau bisa main ke air terjun yang masih sepi gini :D ya meski kadang harus lewat jalan yang penuh perjuangan~~ nggak apa asal bisa terbayar dengan tempat yang cakeup!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak kucing, malah kadang semakin sulit semakin bagus viewnya

      Hapus
  3. Air terjun 3 step yg indah !

    BalasHapus
  4. perjalanan sama teman-teman waktu traveling menentukan mood :D

    semoga bisa dapat teman traveling yang asik juga.

    eh jadi oot :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. beruntung punya temen2 yang sepaham, dan "setengah on" nya bareng2

      Hapus
  5. ihh bagus banget yahh
    kelamaan ngerem Di bandung jadi weh ngak tau

    BalasHapus
  6. Masih banyak perawan di bojonegoro.... hutan maksudnya, di kec. Bubulan, kec. Sekar, Kec. Temayang, Kec. Tambakrejo, Kec. Kedewan, Kec. Malo, Kec. Kedungadem, Kec. Margomulyo dan yg seru di kec. Gondang hutannya masih lebat.

    Ada wisata waduk pacal... bangunan besar dan bersejarah peninggalan belanda sebelum Indonesia merdeka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kmrn cuma sebentar sih, semoga bisa explore bojonegoro lagi

      Hapus