SASAK PANYAWANGAN, JEMBATAN PERENUNGAN BERLATAR JATILUHUR

By Ang Leonard Anthony - 12.14


Ini kali kedua untuk saya melintasi Desa Sukamulya. Kali kedua pula saya membuka jendela lebar-lebar. Udaranya memang tak terasa sejuk apalagi dingin, malah panas menyengat yang hinggap di kulit. Tapi saya suka dengan pemandangan sawah yang mengapit jalan aspal berkelok yang saya lalui. Harum tanah kering terpapar surya dan entahlah, mungkin pupuk kandang yang baunya menyapa ramah. Menjijikan? Tidak untuk saya. Setidaknya bau pupuk kandang tak membuat saya sesak napas dan membuat muka berjelaga layaknya asap pembuangan mesin yang semakin liar berjejalan di jalan Ibu kota.

 
Sasak Panyawangan

Barisan gunung batu berdiri kokoh membentengi jalan kami. Benak saya berandai kalau mungkin saja dahulu barisan gunung ini adalah satu gunung batu yang besar. Di sepanjang perjalanan pun beberapa kali saya menemukan bongkahan batu besar layaknya pecahan gunung yang terlontar atau batuan dari perut bumi yang dimuntahkan bersama aliran lahar. Gunung-gunung batu itu kini terpisah bagai gigi-gigi yang mencuat. GunungLembu, 2 tahun lalu saya sempat mendakinya, menikmati panorama Jatiluhur dari ketinggian 800 meter. Lalu ada Gunung Parang dan Gunung Bongkok yang rupanya tak lebih hijau dari Gunung Lembu. Puncak 2 gunung ini bahkan tak ditutupi tumbuhan. Hampir botak menyisakan guratan-guratan yang terlihat tajam.

 
Jembatan berlatar Gunung Parang

Gunung Bongkok lah yang memanggil saya kembali kali ini. Bukan untuk mendakinya, karena kabarnya pendakian Gunung Bongkok harus dengan persiapan khusus. Tak seperti Gunung Lembu atau Gunung Parang yang sudah dilengkapi jalur Feratta. Ada yang baru di Gunung Bongkok. Baru 4 bulan berdiri dan memang belum banyak yang tahu tentang wisata baru ini. Lihat saja di Instagram, hanya sekitar 300 an foto yang menandai dokumentasi pengunjung di lokasi wisata ini.



Selesai mendaftarkan diri dan membayar biaya masuk, tak lama berselang sudah terlihat jalinan bambu yang membentuk titian melintang tepat di atas kepala saya. Di sisi kiri terdapat jalur menanjak, semuanya disusun dari bambu dan dijalin menggunakan tali yang saya kira berasal dari sabut kelapa. Jalur ini berakhir di satu ujung yang menyerupai ujung bahtera. Jika langit bersahabat, di ujung sana terpampang waduk Jatiluhur yang di kelilingi barisan bukit. Di sisi seberang pun terlihat jalinan bambu yang melintang menggeluti badan Gunung Parang.


Baru 4 bulan berdiri

Adalah Pak Zainal, penggerak Paguyuban Pemuda setempat yang memiliki ide untuk menjadikan wilayah Gunung Bongkok tak hanya untuk pendaki namun juga untuk keluarga. Sasak Panyawangan atau jembatan perenungan adalah hasil dari kerja keras penduduk setempat untuk memajukan potensi wisata daerahnya.



“Sasak (jembatan) yang tadi mas naiki itu menempel di badan Gunung Bongkok dan baru rampung beberapa minggu lalu. Yang di depan itu baru 4 bulan beroperasi dan nantinya akan melingkari secara utuh badan Gunung Parang”

 
Hati-hati bagi yang phobia ketinggian

Saya hanya bisa terperangah mendengar penjelasan beliau. Hanya bermodalkan bambu, tali serabut kelapa dan tekad untuk memajukan wisata setempat. Pak Zainal bahkan mengatakan bahwa biaya pembangunan ini seluruhnya adalah swadaya yang dikumpulkan dari tiket para pendaki Gunung Bongkok.



“Pembangunan ini terus berlangsung, rencananya seluruh jembatan ini nantinya akan menyambung. Di salah satu titik di Gunung Parang akan dibuka lagi jalur Feratta. Saat ini sedang dalam proses quality control. Mungkin nanti akan butuh 1 hari penuh untuk mengelilingi Sasak Panyawangan kalau jembatannya sudah menyambung”


Nantinya akan mengitari ke dua gunung

Saya dibuat terpukau oleh visi seorang putra daerah. Dan saya yakin apa yang diucapkannya tak hanya mimpi semata atau untuk mencari simpati. Sesaat sebelum menyapa saya, beliau baru saja melepas pasak dan palunya. Pemuda-pemuda setempat sedang membangun kolam-kolam kecil untuk anak-anak. Mereka memanfaatkan mata air dengan membuat kolam bermain untuk anak-anak.



“Bagaimana dengan perawatannya pak?” Tanya saya

 
Hanya terbuat dari bambu

“Kami pasti melakukan cek kondisi jembatan sebelum dibuka setiap harinya, kalau satu saja ada yang patah atau talinya lepas, kami tak akan buka. Kami pastikan semuanya aman karena kondisi jembatan yang menggantung di atas dan fatal jika ada yang jatuh karena jembatan yang patah. Kami ingin Sasak Panyawangan berumur panjang, jadi kami jaga keamanannya semaksimal mungkin”



“Pastinya warga senang ya pak, karena ada sumber penghasilan baru” Ujar saya



“Semestinya memang begitu mas, tapi tidak pada kenyataannya. Saya sempat dipanggil Kepala Desa karena ada segelintir orang yang memfitnah saya. Mereka merasa ketenangan kampong terusik karena dijadikan lokasi wisata. Mereka memfitnah kalau hasil kerja saya dijadikan lokasi mesum oleh pendatang. Saat saya tanyakan apa buktinya, mereka menyodorkan sampah-sampah berupa tissue basah yang mereka anggap kondom”

 
Menjadi wisata keluarga

Kami tertawa berbarengan. Segelintir orang memang sepertinya terlalu enggan terhadap perubahan. Padahal kehadiran Sasak Panyawangan sudah jelas membawa ladang rejeki baru untuk penduduk setempat. Warung makan, warung souvenir bukan tak mungkin kedepannya akan menjamur dengan semakin banyaknya pengunjung ke Sasak Panyawangan, Jembatan Perenungan di Desa Sukamulya, Kampung Cikandang.



Catatan C4ME:
1.   Keluarga yang membawa anak kecil harap lebih berhati-hati mengawasi anak-anaknya. 2.   Semoga pengunjung bisa ikut membantu menjaga kebersihan dan menjaga fisik Sasak Panyawangan dengan tidak mengukir-ukir nama di bambu. 
3.   Rute dari Jakarta, keluar di tol Ciganea-Jatiluhur lalu belok kanan ke Jalan Raya Sukatani. Setelah menemukan Pasar Anyar Sukatani, belok kanan dan ikuti jalannya (jalan kecil) Hingga ketemu pertigaan Gunung Lembu dan Gunung Parang, belok kiri dan terus ikuti jalan hingga Sasak Panyawangan.

  • Share:

You Might Also Like

12 comments

  1. Gunungnya bagus juga kak..apalagi namanya...hehe.
    Buat orang tertipu.

    BalasHapus
  2. Sumpah pengen banget ke sini. Suka view dan jembatannya. Bahan bambu membuatnya tampak estetis dan menyatu dengan alam.

    BalasHapus
  3. Keren! Tapi keamanannya harus dijaga banget. Aku fobia ketinggian, dan ngeliat fotonya aja dari sini udah bikin aku deg-deg seeerrr hahaha. Pariwisata memang pedang bermata dua sih. Satu sisi, ia menghidupkan suatu daerah dan membuka pintu-pintu rejeki. Di sisi lain, bila tidak dijaga, ia akan menjadi boomerang yang merusak alam dan menghancurkan budaya.

    Btw kamu jadi kayak duta pariwisata Purwakarta nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, ini emang agak uji nyali krn pagar pembatasnya sedikit dibawah pinggang. Jd hrs extra hati2

      Hapus
  4. Keren pake banget ini... Pengen banget kesini view jembatan yang di kelilingi tanaman...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ni baru di Purwakarta. Semoga bs terus terjaga ya

      Hapus
  5. Keren tempatnya juga berasa mengajak buat kesini, jadi pas banget buat trip PP karena cuma selangkahan jin dari rumah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah enak kl deket rumah. bisa sering kesini

      Hapus
  6. keren juga ya, jalanan setapak mengelilngi gunung seperti itu, tapi kalau hujan nggak ada buat berteduh ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya kl hujan ga diperbolehkan ko, krn angin kencang dan takut licin

      Hapus