MENANTI PAGI DI DESA PINGGAN BERSAMA 3 GUNUNG

By Ang Leonard Anthony - 14.55

Jalan berbatu membangunkan saya dari lelap. Yang bisa saya lihat hanya pekat mengapit dan bias cahaya lampu kendaraan saya yang bersusah payah memecah kabut. Sesekali saya melintasi rumah atau mungkin toko yang terlihat serupa tanpa ada pendar lampu. Rupanya tak ubah kotak-kotak hitam yang bergeming. Pukul 03.30 dini hari, sudah satu setengah jam saya meninggalkan Kuta yang masih dirangkul sepi. Bergulir tak berkawan di lengangnya Kintamani. Bahkan 1 kantor polisi yang sempat saya singgahi pun hening tak berhuni. Sepertinya tak ada yang harus diwaspadai sehingga aparat lebih memilih terlelap terbuai dinginnya Kintamani.
Desa Pinggan

Bangunan-bangunan yang hanya diterangi binar kecil kini tak lagi mengiringi laju saya. Hanya kelam dan jalanan yang saya rasakan makin menanjak dan makin sering berkelok. Tak banyak info yang saya dapat tentang Desa Pinggan. Adapun beberapa info yang didapat semuanya menyajikan informasi berbeda. Tentang rute, tentang akses pun tentang kondisi jalan. Tak ada yang bisa saya jadikan pegangan, hanya ada satu kesamaan, semuanya menyebutkan tentang pohon cinta yang sering dijadikan patokan para pemburu surya menantikan sang surya menggeliat dari balik barisan gunung, beranjak meninggalkan cakrawala merayapi mega.
Mengejar matahari terbit
Saya melambatkan laju kendaraan, hanya menerka-nerka di mana gerangan sang pohon cinta. Beruntung kabut sudah enggan bertengger di ketinggian saat ini. Meskipun masih tak bercahaya, siluet-siluet pohon bisa saya rasakan berlari kecil meninggalkan saya. Di salah satu ruas jalan saya sempat menangkap bayangan pohon yang berdiri di ujung bukit kecil, pongah menentang dingin yang menusuk. Entah sudah berapa lama pendingin saya matikan sejak jendela kendaraan saya turunkan demi mendapati pandangan yang lebih jelas akan sosok pohon cinta di tengah pekat malam. Yang membuat saya yakin, tak jauh dari siluet pohon terdapat pelataran yang cukup luas dan saung bambu. Tepat pukul 4 dini hari saya keluar dari kendaraan. Tak ada persiapan untuk menghalau dingin, saya hanya berselimutkan handuk mandi dari hotel yang menutupi selembar kaos tipis dan celana pendek. Namun entah mengapa saya menikmati dingin berkawan angkasa yang masih bertaburan bintang. Nyatanya saya bisa terlelap sejenak.
Matahari pagi di Desa Pinggan
Pukul 5, langit di sebelah kiri saya bersemu merah. Tak lama ada 2 orang pemuda yang rupanya berprofesi sebagai fotografer mengucap salam sambil terus berjalan ke tanah lapang tak berumput dan menyalakan api unggun. Setidaknya saya semakin yakin kalau ini adalah benar salah satu titik di Desa Pinggan untuk menikmati surya beranjak dari lelapnya. 
Lukisan pagi
Sekeliling saya sepertinya mulai menanggalkan jubah kelamnya. Siluet kini berganti dengan wujud yang lebih bersahabat. Saya mulai bisa menikmati ilalang-ilalang yang tumbuh jangkung membatasi ujung tebing menampakan kabut menyemak 1300 meter di bawah. Pohon cinta mulai nampak ranting dan helai daunnya, yang ternyata hanya pohon liar biasa. Jauh di bawah sana, satu dua sorot lampu kendaraan mulai terlihat berlalu lalang menembus kabut. Di seberang saya menggeliat sosok Gunung Agung, Gunung Abang dan Gunung Batur berbaris rapi menemani saya menyambut pagi. Ketiganya bagai anak kecil yang berdiri saling adu berjingkat agar terlihat lebih tinggi dari lainnya. Paling rendah si Batur, disusul Abang lalu sang Agung yang paling tinggi.
Gunung Batur, Abang dan Agung
Dari ketinggian 1300 Mdpl
Saya hanya bisa berdecak kagum saat bumi mulai menghangat. Satu sisi dari badan gunung-gunung mulai dirambati cahaya kuning menampakkan hutan di kaki gunung menyisakan puncak gersang berbatu. Lautan kabut yang menggantung rendah kini tak lagi putih sepenuhnya, menguning di beberapa sisi. Di sisi lainnya bahkan kabut sudah beranjak pergi menampilkan petak-petak entah sawah atau desa di bawah sana. Lama saya terpekur menikmati cahaya merangkak perlahan bak menyapu kabut. Hangatnya kini sudah tiba menerpa tubuh, namun sesekali angin dingin masih berhembus kadang kencang kadang perlahan membawa aroma embun pagi.
Tak rugi meski harus bangun pagi
Kabut yang masih menutupi sebagian desa

Saat beranjak pulang, pekat yang saya lewati ternyata petak-petak sawah dan perkebunan warga. Warga Desa Pinggan memang mayoritas petani. Mereka memanfaatkan udara sejuk untuk bercocok tanam sayur dan buah. Salah satunya adalah jeruk Kintamani. 

Pukul 07.30 pagi saya beranjak meninggalkan pohon cinta di Desa Pinggan. Meskipun surya sudah bertahta di angkasa, Desa Pinggan tetap setia dengan sejuknya. Meninggalkan saung tempat saya terlelap sejenak berselimutkan handuk menanti surya menampakan hangatnya. Tak ada sesal terselip meskipun harus menembus malam, bergelung dengan handuk saat di terpa angin kencang di ketinggian. Terimakasih Batur, Abang dan Agung yang menemani saya sepanjang gelap hingga surya bersinar.
Langit merekah
Catatan C4ME :
1. Desa Pinggan berjarak 2 sampai 3 jam dari Kuta. (Disarankan menggunakan mobil)
2. Terletak di wilayah Kintamani. Patokan selain pohon cinta adalah bangunan abu-abu yang berfungsi sebagai tempat penampungan air.
3. Persiapkan bekal sarapan karena tidak ada warung di sekitar.
4. Gunakan baju yang cukup nyaman. Kondisinya tidak terlalu dingin (16-20 derajat) namun saat ada angin berhembus cukup terasa dingin. 
5. Matahari muncul sekitar pukul 5-6 pagi tergantung bulan.
6. Tipikal dataran tinggi, semakin siang umumnya cuaca malah mendung dan gunung tertutup kabut 

Jalan-Jalan Jeprat-Jepret

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Luar biasaaa viewnya. Jadi ngebayagin, gimana enaknya warga Desa Pinggan. Ga perlu jauh-jauh buat menikmati pesona seistimewa ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik ya tiap hari bisa liat view kaya gini

      Hapus
  2. Kak leo pemandangan nya kueren,klau kesana paling saya ngak mau turn turun hehehe.
    Eh kak leo, foto mesranya ituloh jadi bikin baper...so romantisssss pakai bingit

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, enaknya disini berlama2. Tp kl siang cenderung mendung sih. Pasangan itu turis asing lagi prewed hehehe

      Hapus
  3. Oktober tahun lalu saya pernah mencoba meraih pagi di Pinggan, dan permasalahannya masih sama, tentang rute. Saya beriring-iringan dengan truk-truk pengangkut pasir dengan rute yang sangat sulit. Dan pada akhirnya saya menyerah, tapi pagi di Kintamani cukup menghangatkan hati hehehe. Keren bang Leo!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang banyak truk pasir disana. Tapi kl subuh masih lengang sih hehe

      Hapus
  4. Keren mas dokumentasinya

    BalasHapus
  5. Pemandangannya seakan-akan kita berada di atas awan ya kak, keren banget. mengingatkanku akan kampung halaman di Tangse. iiih, kebanyang pasti dingin banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ka liza, seneng bgt ada di sini. Viewnya luar biasa. Dingin lumayan lah hahaha

      Hapus