DI METRO BERKUMANDANG TANAH AIRKU

By Ang Leonard Anthony - 15.31

Hari kedua di Kei, kami kembali keluar masuk perkampungan. Seingat saya sudah 1 jam lebih kami meninggalkan hotel namun rasanya sudah berganti posisi berkali-kali, terbangun dan tidur berkali-kali kami masih juga belum sampai di tempat tujuan. Ya...berbeda dengan 1 jam di ibukota yang penuh sesak, 1 jam tanpa ada hambatan sama sekali di Pulau Kei terasa sangat jauh dan lama.
Pantai Metro

 Secara infrastruktur, Pulau Kei kecil sudah sangat baik dengan jalan beraspal. Jika sesekali kami menemui jalan berlubang, masih dirasa wajar. Kendaraan kami berhenti tepat di mulut jalan menurun. Dari sini kami harus berjalan kaki. Mungkin karena di bagian tengah jalan ini sedang dilangsungkan ibadah sehingga kami harus berjalan kaki. 
Jatuh cinta dengan pantai ini
Pasir putih, langit biru dan barisan pohon kelapa seketika membuat saya jatuh cinta dengan pantai ini, Pantai Metro...Ahh, saya sempat mengucap sesal dalam hati. Saya berharap akan mendapati nama eksotis macam Ohoidertawun atau Ngur Bloat untuk pantai seindah ini. Entah mengapa pantai ini bisa bernama Pantai Metro, bayangan pertama yang terlintas pastilah pantai yang dijejali dengan bar-bar berkelap kelip dengan dentum pengeras suara yang memekak telinga, jauh dari citra pantai ini sebenarnya.
Indonesia indah
Sepertinya memang ciri khas Pulau Kei yang memiliki pasir halus seputih susu, pun pantai ini. Kaki saya melesak cukup dalam saat harus berjalan di Pantai Metro. Di kiri saya terdapat pasir putih yang memanjang dipagari hutan kelapa, sementara di kanan saya lebih di dominasi oleh batu-batu karang yang mencuat membelah pasir putih. 
Sisi kanan yang berkarang
Di bawah naungan pohon kelapa 1 keluarga dari negeri jauh sepertinya sedikit terusik dengan kehadiran kami. Memang sebelum kami datang, tak ada siapapun di pantai ini kecuali mereka. Kehadiran kami sepertinya mengundang perhatian warga yang menyebabkan warga berhamburan. Mungkin karena kami berkomunikasi, kami banyak bertanya, kami memesan kelapa, jadilah banyak warga yang tertarik berbincang dengan kami alih-alih kepada keluarga berkulit pucat yang mereka pun tak tahu harus berujar apa.
Berbatasan dengan kebun kelapa
Kelapa segar langsung dipetik dari pohonnya
Sementara dari arah bebatuan, kawanan anak-anak mendekati kami. Satu persatu layaknya mata-mata memeriksa keadaan menghampiri kami hingga akhirnya hampir 7 anak bergerombol di dekat kami. Antusias mereka bercerita tentang legenda tanah lahir mereka. Mereka bercerita tentang penyu belimbing yang sempat menghuni Telaga El di kampung mereka. Karena sang raja penyu terkena tikam oleh penduduk, akhirnya penyu-penyu ini meninggalkan Telaga El hingga tak tersisa satupun. Konon katanya kini jika manusia ingin bertemu dengan penyu belimbing, mereka harus berlayar hingga bekal mereka habis baru bisa bertemu dengan sang penyu. Lucunya mereka saling melengkapi cerita satu sama lain, saling membenarkan dan saling menyalahkan jika ada yang salah ucap dari antara mereka. Kepolosan anak-anak masih terpancar jelas dari mata mereka. satu anak yang paling kecil bahkan terlihat menggenggam erat dan sedikit berlindung di bahu kakaknya.
Anak-anak Pulau Kei
Dari mereka saya belajar bersyukur
Sebelum beranjak, kami meminta mereka untuk bernyanyi. Pikiran nakal saya sempat membayangkan, jika mereka anak-anak kota pasti akan mendendangkan lagu boyband atau dangdut koplo yang sedang tenar. Tidak dengan anak-anak ini....

Bukan di gedung megah dengan panggung bersinar tapi hanya di pinggir pantai berpasir putih berlatarkan langit. Bukan diiringi dengan alunan megah musik orkestra tapi hanya debur ombak dan desau angin yang mengiringi. Bukan dilantunkan oleh biduan terkenal tapi hanya sekelompok anak-anak berkulit legam berambut lusuh. Haru sempat menyergap kami, rasanya lantunan Tanah Airku tak bisa lebih indah lagi dari apa yang baru saja kami dengar. Mengingatkan kami untuk bersyukur atas indahnya Indonesia dan betapa beruntungnya kami anak-anak kota yang hidup serba mudah. 
Pantai berpasir halus layaknya susu bubuk

Perjalanan ini sebagai bagian perjalanan bersama ayojalanjalan.com

  • Share:

You Might Also Like

26 comments

  1. Aku baca ini sambil dengerin lantunan lagu Tanah Airku dari anak-anak ini. Beneran terbawa suasana indahnya Pantai Metro.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar-benar suasanya yang sangat nyaman mas ya...

      Hapus
    2. Bayangin dengernya di pinggir pantai ya

      Hapus
  2. Bagus pantainya. Nanti kalau may ketemu penyu, berlayar ga usah bawa bekal. Langsung ketemu deeh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ide bagus, taunya harus sebulan berlayarnya

      Hapus
  3. Kereeeeen. Pantainya putih bersiih. Cerah pula

    BalasHapus
  4. Terharu...mendengar nyanyian mereka

    BalasHapus
  5. ahh kangen liat perahu bercadik dan lihat gradasi air lautnya bikin pengen potoinnn

    BalasHapus
  6. Ya Allah cantiknya pantai Metro ini. Sayangnya jauh dari Pulau Jawa, adanya di Pulau Kei yang agak susah aksesnya. Tapi perjalanannya sebanding lah dengan pemandangan yang akan kita dapat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betu Mba Evi, ga sia2 jalan jauh kesana, krn indahnya sebanding dgn perjalanannya

      Hapus
  7. Kok lucu banget si anak anak itu. Gemesin.... Bocah2 yang masih belum tahu kerasanya dunia. Wkwkwkw... Semoga sehat selalu mereka. Aamiin...


    Btw, pasti ini pantai panas banget. Keliatan dari bersihnya langit. Berjemur bentar pasti jadi abu.. 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha sadis langsung jadi abu. Banyak pohon kelapa utk berteduh koq

      Hapus
  8. Wah pantai metro ini mesti masuk list tempat yang perlu dikunjungin nih.

    Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gambaran ideal utk sebuah pantai :p

      Hapus
  9. Iya ya, kenapa namanya Pantai Metro ya. #mikirkeras

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kl ud ketemu jawabannya tlg kasih tau ya hahaha

      Hapus
  10. Hmmm... syahdu...

    kirain pantainya banyak gedungnya gitu.. ternyata bersih dan asri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Krn namanya terkesan pantai di daerah kota ya hehe

      Hapus
  11. Ya ampun.. dari awal sampai habis baca cerita ini gak berhenti berdecak kagum sama keindahan Pantai Metro. Jadi serasa ikut ke sana juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi kakak, emang pantainya indah bgt ni

      Hapus
  12. 3 layers in 1 place : blue, cyan, and white sands!
    Keren banget pantainya mas, pengen banget kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnnn semoga bs segera mampir ke pantai ini

      Hapus