TUKAD CEPUNG, AIR TERJUN DI TENGAH KOTA DENGAN PEMANDANGAN INDAH

By Ang Leonard Anthony - 12.59

Perkenalan saya dengan Tukad Cepung tak lain dari media sosial Instagram. Mungkin sudah setahun saya menikmati foto-foto air terjun di daerah Bangli ini hingga akhirnya saya bisa mengunjungi Tukad Cepung. Dari arah Kuta mengambil rute melewati Sanur, belok kanan ke arah Ida Bagus Mantra. Setelah Bali Safari & Marine Park, belok kiri ke arah utara menuju Gianyar dan mengikuti petunjuk jalan ke arah Bangli. Setiba di Bangli tinggal mencari Banjar Penida Kelod, Kecamatan Tembuku. Tukad Cepung relatif mudah ditemukan karena letaknya yang masih berada di tengah kota.
Tukad Cepung

Hanya ada sedikit 1 mobil dan 2 motor yang terpekur di lahan parkir darurat berupa lapangan berbatu. Ahhh sepi...pikir saya. Dari saung kecil muncul pemuda yang menyodorkan tiket masuk, 10.000,- perorang. Hal yang selalu kami tanyakan setiap kali menuju air terjun pun tak lupa kami sampaikan kepada pemuda tadi "berapa lama perjalanan dari sini" "dekat mas" begitu jawabnya. Walaupun kadang kami merasa tertipu dengan definisi "dekat" penduduk lokal.
 
Diapit tebing cadas
Tak lama berselang kami menemukan tangga beraspal yang cukup curam. Dari arah berlawanan ada 3 orang turis Korea yang tersengal-sengal kehabisan napas. Seketika nyali kami ciut melihat mereka berpeluh dengan muka memerah. Seketika itu juga kami kembali mengumpat "dekat ndasmu masss..." sambil membayangkan muka pemuda penjaga tiket. Setelah membiarkan ketiga turis korea melintas, kami hanya bisa saling memandang, menyeringai dan melangkahkan kaki di anak tangga pertama. Nyatanya memang tak terlalu banyak anak tangga namun jarak antara anak tangga yang tinggi dan lebar-lebar lah penyebab ketiga turis Korea tadi tersengal-sengal. Tak jauh di akhir anak tangga, ada 1 warung yang menjajakan makan dan minum. Selepas warung ini, jalan setapaklah yang kami temui.
 
Menyusur aliran sungai
Kami menyusur bantaran sungai kecil yang sepertinya digunakan untuk mengairi sawah atau kebun warga sekitar hingga bertemu warung kedua. Kami sempat singgah sebentar dan menanyakan rute kepada sang ibu. Entah kenapa kali ini kami yakin saat sang ibu mengatakan rutenya sudah dekat, hanya tinggal mengikuti jalan setapak hingga bertemu dengan tangga turun ke aliran sungai. Sedikit menembus hutan semenjak kami meninggalkan warung kedua. Beruntungnya kami, terik saat itu memadatkan jalan setapak kami. Terbayang saat hujan, jalan setapak ini akan berubah bak genangan lumpur. Ragu menyergap saat dihadapkan 2 jalan bercabang, yang kanan terlihat lebih manusiawi dengan jalan setapak yang berbelok tak terlihat diujungnya, sementara cabang di kiri kami berakhir dengan jurang yang memiliki undakan-undakan tangga dari tanah yang dipadatkan dan dikunci dengan jalinan bambu. Mungkin ini tangga yang ibu tadi maksudkan. Walaupun suasana sedikit menyeramkan karena terhalang pepohonan, kami memutuskan untuk mengambil jalan menuruni tangga yang berujung pada aliran sungai kecil. 
 
Bentuknya menyerupai mangkuk
Kami yakin menempuh jalan yang benar karena 2 tebing mengapit kami saat menyusuri sungai. Bilah-bilah sinar matahari terkadang menyeruak masuk menerpa dinding tebing yang menghijau dilapisi lumut. Indah luar biasa pemandangannya. Tak sampai 5 menit menyusur sungai, kami menemukan jalan kami terhalang batu besar. Kami harus merunduk dan merapat ke dinding untuk melintas di antara himpitan batu dan dinding tebing. Di balik batu inilah Tukad Cepung berada.
 
Di saat yang tepat bisa mendapat bilah-bilah cahaya
Aliran air terjun Tukad Cepung jatuh dari ketinggian 15 meter dengan tebing yang mengelilingi menyerupai mangkuk. Jatuhnya aliran air terjun layaknya tirai putih yang menutupi salah satu bagian tebing. Dengan kondisi sungai yang hanya setinggi betis orang dewasa, kami bisa masuk mendekat ke aliran air terjun. Keadaaan yang sepi membuat kami leluasa mengabadikan indahnya Tukad Cepung. Kondisi di atas Tukad Cepung yang berupa hutan membuat bilah-bilah sinar matahari terlihat begitu indah menyeruak dari antara dedaunan. Beruntungnya kami datang pada saat yang tepat. Antara pukul 11.00 hingga pukul 14.00 saat matahari bersinar masuk ke dalam lubang menganga di atas tebing membentuk bilah-bilah cahaya dilatari aliran air terjun Tukad Cepung. Dalam kondisi sepi, aura mistis Tukad Cepung memang terasa sangat kental, tinggal bagaimana kita menjaga sikap di lokasi-lokasi seperti ini.
 
Jalan-Jalan Jeprat-Jepret
Sejenak bayangan tangga yang berhasil kami lupakan kembali merebak saat memikirkan kami harus menyudahi kunjungan kami di Tukad Cepung. Terjawab sudah muka-muka memerah turis Korea tadi, ternyata perjalanan pulang memang lebih melelahkan. Namun menurut saya, akses menuju ke Tukad Cepung masih sangatlah mudah untuk ditempuh dalam waktu singkat. Sekitar 15 menit perjalanan menuju Tukad Cepung, dan 20-25 menit dengan kondisi jalan santai menaikin tangga yang cukup curam. Apalah arti 20 menit jika bisa menemukan air terjun seindah Tukad Cepung.

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Dekat dari Kota yaaa.. dekat dari Warung pula. Cocok banget nih, ga usah jauh2 berpetualang. Dpt air Terjun instagenic. Pertanyaan nya.. abis duit berapa buat jajan di warung? Curiga ngeborong deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Deket, akses masuknya aja deket perumahan warga koq. Saya mah jajannya dikit, 3 pisang goreng, 1 mie instan, 1 pocari, 1 teh botol, 1 mie remez (teman ngunyah di perjalanan)

      Hapus
  2. Wah, dapet banget ROL-nya. Keren banget ini.

    BalasHapus
  3. Aihh astaga bagus.. Aku pas nyampe gambar juga langsung fokus sama ROLnya..... Dan iya bener.. Kayak tirai air terjunnya...

    Ngmg ngmg masalah mistis, di setiap lokasi pasti ada ya kak... Jd ga usah takut. Asal niatnya baik dan ngejaga sekitar.... Bihihik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah kadang yang mistis2 itu jadi daya tarik sendiri kak hihihi

      Hapus
  4. Turis Korea aja kepayahan, apalagi kita yang jarang jalan kaki, wkwkwk. Tapi yang penting perjuangannya terbayar ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi ga susah koq, termasuk mudah dijangkau

      Hapus
  5. Ini datangnya pas weekday atau weekend kak? Kelihatan sepi sekali tempatnya. Biasanya kan kalo tempat wisata hits selalu ramai pengunjung sampai susah ambil foto bagus :D

    Cheers,
    Dee Rahma - heydeerahma.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas weekdays kak, emang sepi banget cuma ada sepasang bule waktu kita disana

      Hapus