GOA GONG, GOA WARNA-WARNI DI PACTIAN

By Ang Leonard Anthony - 19.54

Belakangan Pacitan menarik minat pelancong dengan keindahan alamnya. Saya sendiri pertama kali mengenal Pacitan karena keindahan Pantai Banyu Tibo. Nyatanya semenjak Bapak SBY menjabat sebagai Presiden RI, Pacitan yang notabene kampung halaman Pak SBY berbenah diri. Potensi wisata digaungkan untuk menarik pelancong dalam dan luar negeri. Kini Pacitan lebih dikenal dengan Kota Seribu Goa dari pada pantainya. Maka kami menyelipkan satu destinasi, Goa Gong, Goa yang menjadi ikon Pacitan untuk kami sambangi.
 
Goa Gong Pacitan
Goa Gong terletak tak jauh dari pusat kota. Berjarak sekitar 20 kilometer dengan waktu tempuh setengah jam. Terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kota Pacitan, tak sulit untuk menemukan Goa Gong karena cukup banyak rambu-rambu di sepanjang jalan yang mengarahkan pelancong ke Goa Gong.

Dari lokasi parkir, kami masih harus berjalan kaki namun di sekitar lokasi cukup banyak ojek yang menawarkan untuk sampai ke pelataran dari Goa Gong. Tak lama memang hanya sekitar 5 menit namun dengan rute yang cukup menanjak. Diburu waktu dan sekaligus menghidupkan perekonomian warga, kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojek ini dengan harga cukup murah Rp 5000,- menuju ke Goa Gong dan kembali ke parkiran. Di depan terdapat tulisan besar Goa Gong Pacitan. Secara fasilitas, terlihat sekali kalau tempat wisata ini diperhatikan dengan sangat baik. Persis di sebelah tulisan ada pendapa yang cukup besar untuk beristirahat.
 
Jembatan penghubung antar bukit
Perjalanan kami masih berlanjut menyusuri jalan setapak yang sudah terpelur semen. Tak lama berselang jembatan yang cukup panjang menghubungkan satu bukit tempat kami berada ke bukit di seberang kami. Perjalanan kami tak memakan waktu lama hingga ke mulut Goa Gong. Tak istimewa di bagian depannya. Hanya lubang mengangga terbuka tak beraturan di dinding tebing. Di sekitarnya banyak pelancon yang mungkin sedang beristirahat sebelum melanjutkan menjelajahi Goa Gong atau mungkin pula mereka yang sudah  kelelahan setelah menjelajah Goa Gong. Kami disambut beberapa pemandu yang menawarkan jasa dan alat penerangan. Kami karena memang diburu waktu memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pemandu. Setidaknya kami yakin yang kami cari di dalam adalah batu yang berbunyi seperti gong ketika ditabuh.
 
Jalan-Jalan Jeprat-Jepret
Kami mulai memasuki goa dengan langit-langit yang tak terlalu tinggi. Seketika lembab menyergap kami, tak heran di depan tadi kami lihat banyak orang berpeluh dan tersengal-sengal. Jalurnya sudah terbagi 2 untuk jalur masuk dan keluar dengan railing di tengahnya, cukup terorganisir untuk wisata alam. Pijakan kami hanya lantai goa yang sedikit berair dan licin sehingga harus sedikit berhati-hati. Tak lama berselang kami dibuat takjub dengan “katedral” di dalam goa. Ada ruang besar di dalam goa dengan stalagtit dan stalagmit bermandikan cahaya lampu warna-warni. Seketika kami merasa kecil setelah sedikit berjejalan di pintu masuk goa.
 
Bertabur warna-warni lampu
Railing di depan tadi ternyata menyambung terus berkelok di dalam perut goa. Ada tangga menurun dengan trap yang cukup rapi sehingga nyaman untuk pengunjung. Hanya basah tetap mengiringi jalan setapak kami. Di dalam perut goa ini sebenarnya cahaya cukup terang sehingga tak perlu alat penerangan apapun. Seluruh dinding goa dan isinya berpendar warna-warni dari merah, kuning, hijau, ungu, pink, biru. Karena jalan setapaknya tak terlalu lebar, kami harus sedikit bersabar ketika rombongan di depan kami berhenti untuk berfoto. Justru saat ini lah kami gunakan untuk mencuri dengar dari pemandu di rombongan sebelah yang mengatakan bahwa ada 7 ruangan di dalam Goa Gong. Ruang Sendang Bidadari berupa kolam kecil dengan air yang dingin, bersebelahan dengan Ruang Bidadari. Ruang ketiga dan keempat adalah Ruang Marmer dan Batu Kristal, saya sempat menyaksikan salah satu stalagtit yang berkilap ketika disorot lampu senter oleh salah satu pemandu. Ruang lima adalah pusat dari Goa Gong dengan ruangan yang sangat besar. Konon katanya jika ditarik garis lurus ke atas, posisi kami saat itu 300 meter di bawah puncak bukit. Ruang keenam adalah Ruang Pertapaan lalu ruang ke tujuh adalaha Ruang Batu Gong.
Mengapa di sebut Goa Gong? karena menurut cerita setempat, dahulu dari dalam goa sering terdengar orang bermain gong padahal tak ada siapapun di dalam goa. Selidik punya selidik, ternyata bunyi gong berasal dari cucuran air yang jatuh menimpa batu-batu di bawahnya dan menimbulkan gema seperti tabuhan gong.
 
Dilengkapi dengan railing
300 meter ke dalam perut goa
Kami terus menyusuri Goa Gong yang semakin dalam semakin terasa pengap. Baju kami basah kuyub meskipun di beberapa titik goa sudah dilengkapi dengan kipas angin besar namun sepertinya tak membantu untuk kami. Di beberapa sisi goa kami menemukan lubang gelap menganga, malah dari dalam situ kami merasakan hembusan angin yang cukup sejuk (walaupun tak tahu ada apa di dalam sana :p) Sialnya kami, karena kami tidak menggunakan jasa pemandu tanpa terasa kami sudah berjalan hampir kembali ke titik awal penjelajahan goa. Kami hanya sempat menikmati Batu Kristal dan beberapa sendang yang kami pun tak punya nyali untuk turun dan mendekat ke arah sendang. Kami hanya menatap berjarak beberapa meter sambil berimajinasi “ada apa gerangan yang berkubang di air dingin nan gelap?”
 
Formasi batuan berumur ratusan tahun
Batu dengan bentuk-bentuk unik
“Dimana Batu Gongnya?” kami saling bertanya. Tak satupun kami lihat area spesial yang dikerumuni pengunjung. Tak sedikitpun kami mendengar bunyi gong selama hampir 30 menit kami berada di dalam goa. Kami hanya menatap batu-batu besar sambil menghibur diri….”ah mungkin itu batu gong dan sudah tidak boleh didekati oleh pengunjung” Karena memang salah satu peraturan yang tertera adalah dilarang menyentuh atau merusak batuan yang ada. Terlepas dari tidak bertemunya dengan Batu Gong, Goa Gong ini merupakan salah satu detinasi wisata alam yang sudah dikelola dengan sangat baik. Indahnya goa yang bermandikan cahaya warna warni saja sudah menjadi daya tarik sendiri. Kecewa saya sedikit terobati saat ada yang mengatakan bahwa Goa Gong memnag sudah tidak memiliki Batu Gong, yang masih memiliki Batu Gong adalah Goa Tabuhan yang berada di Pacitan juga.

Kecilnya manusia di tengah ciptaan-Nya

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. Mirip banget sama Gua Maharani di Lamongan, termasuk lampu warna-warninya. Angin sejuk itu mungkin dari lubang gua yang terhubung dengan dunia lain. Maksudnya dunia di luar gua, Pak. Hahahaha.

    BalasHapus
  2. Waduh Gua aja bisa keren. Indonesia emang selalu punya sesuatu yg menarik untuk diperlihatkan pada dunia

    BalasHapus
  3. tiap dengar pacitan aku selalu kagum sama objek wisatanya..

    BalasHapus
  4. Aku jarang banget ke gua, dalemnya keren banget yak. Kalau aku kayaknya bakal pake pemandu karena nggak pede masuk sendirian, hahaha

    BalasHapus